MAMUJU — Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Barat Muhammad Yasir Fattah menegaskan laporan harian Pusdalops bukan sekadar administrasi. Data itu menjadi pijakan untuk membaca perubahan situasi sekaligus menentukan kebutuhan penanganan, termasuk distribusi air bersih bagi wilayah terdampak kekeringan.
"Laporan harian bukan hanya sebagai dokumentasi, tetapi menjadi dasar untuk melihat perkembangan situasi dan menentukan kebutuhan penanganan secara cepat dan tepat. Karena itu, setiap informasi harus diperbarui dan diverifikasi secara berkala," kata Yasir Fattah.
BPBD Sulbar menilai pembaruan data penting karena kondisi bencana dapat berubah dari waktu ke waktu. Informasi yang terlambat atau tidak terverifikasi berpotensi memengaruhi penentuan kebutuhan penanganan di lapangan.
Dampaknya langsung terasa pada keputusan operasional. Salah membaca data kekeringan di satu kabupaten bisa berarti distribusi air bersih datang terlambat atau salah sasaran.
Karena itu, evaluasi Pusdalops diarahkan untuk memastikan informasi kejadian, perkembangan penanganan, serta kebutuhan masing-masing daerah tersaji secara berkala dan dapat menjadi rujukan koordinasi.
Rapat monitoring dan evaluasi memetakan perkembangan karhutla dan kekeringan pada sejumlah wilayah kabupaten di Sulawesi Barat. Forum itu juga membahas kebutuhan dukungan sumber daya antarwilayah.
Mekanisme penyampaian informasi situasi secara berkala turut dievaluasi agar koordinasi lintas instansi berjalan lebih cepat. Setiap daerah diminta menyajikan data kejadian dan perkembangan penanganan secara rutin.
Pusdalops BPBD Sulbar berfungsi sebagai simpul informasi kebencanaan provinsi. Laporan yang masuk dari kabupaten menjadi bahan penentuan langkah penanganan, termasuk saat kekeringan memicu krisis air bersih di permukiman warga.
Verifikasi berlapis diterapkan untuk memastikan angka dan lokasi kejadian akurat sebelum diteruskan ke pengambil keputusan. Informasi yang belum terverifikasi tidak dijadikan dasar distribusi bantuan.
Rapat yang dipimpin Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulbar Rahmat Rahim itu menutup dengan penekanan pada kecepatan pembaruan data. Informasi yang bergerak secepat kondisi lapangan dinilai kunci agar respons penanganan tidak tertinggal dari perkembangan bencana.