MAJENE — Warga Dusun Salubiru, Desa Salutahongan, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, terpaksa menandu pasien melewati sungai dan jalan setapak demi menjangkau layanan medis, Minggu (3/5/2026). Aksi ini merupakan bentuk protes nyata atas minimnya fasilitas kesehatan dan infrastruktur jalan yang memadai di wilayah terpencil tersebut.
Kondisi memilukan ini terekam saat warga bahu-membahu membawa warga yang sakit menuju titik yang bisa dijangkau kendaraan roda empat. Lokasi evakuasi darurat ini berjarak beberapa kilometer dari pusat layanan kesehatan masyarakat (Puskesmas) terdekat.
Warga menyebut peristiwa ini bukan kejadian luar biasa, melainkan rutinitas yang harus mereka jalani selama bertahun-tahun. Ketiadaan akses jalan yang layak bagi kendaraan ambulans memaksa warga mengandalkan tenaga fisik untuk menyelamatkan nyawa kerabat mereka.
Kondisi geografis yang sulit ditambah minimnya perhatian pemerintah membuat warga di dusun terpencil seperti Salubiru merasa dianaktirikan. Setiap kali ada warga yang membutuhkan penanganan medis mendesak, warga desa harus segera berkumpul untuk menyiapkan tandu darurat.
"Bukan pertama kalinya dilakukan, tetapi sudah menjadi rutinitas warga di Desa Salutahongan, khususnya di dusun-dusun terpencil seperti Salubiru. Jika ada warga sakit dan hendak berobat ke puskesmas, satu-satunya jalan adalah ditandu beberapa kilometer hingga ke tempat yang bisa dijangkau kendaraan," ujar seorang warga, Lukman Jania, Minggu (3/5/2026).
Upaya menyuarakan keluhan ini sebenarnya telah dilakukan berkali-kali, baik melalui jalur birokrasi di forum pemerintahan maupun media sosial. Namun, hingga saat ini masyarakat menilai belum ada inisiatif nyata dari Pemerintah Kabupaten Majene maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat untuk membangun akses jalan yang layak.
Meski terdapat Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes), fasilitas yang tersedia dianggap jauh dari standar pelayanan minimal. Ketiadaan alat medis yang lengkap dan tenaga kesehatan yang bersiaga 24 jam membuat warga tetap harus dirujuk ke Puskesmas kecamatan atau rumah sakit di kota.
Kondisi ini sangat berisiko bagi warga yang mengalami kondisi gawat darurat, terutama bagi ibu yang hendak melahirkan. Keterlambatan penanganan akibat durasi perjalanan yang lama saat ditandu sering kali berujung fatal.
"Ada pelayanan tapi fasilitasnya tidak memadai, sehingga sering ada yang meninggal atau melahirkan di jalan," kata Lukman menegaskan keprihatinan warga.
Kecewa dengan respons pemerintah daerah yang lamban, warga Desa Salutahongan akhirnya melayangkan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka. Mereka mendesak adanya strategi khusus untuk menangani wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Masyarakat menuntut penyediaan fasilitas kesehatan dan tenaga medis di desa sesuai standar operasional prosedur (SOP). Hal ini bertujuan agar keselamatan warga tidak lagi dipertaruhkan di jalanan setapak saat menuju rumah sakit.
"Besar harapan kami, semoga Bapak Presiden Prabowo Subianto, Bapak Gubernur Suhardi Duka, serta seluruh elemen pemerintahan terkait dapat melihat dan menangani situasi di wilayah kami. Hal ini sudah berlarut-larut tanpa solusi yang kami dapatkan. Hormat kami, suara rakyatmu yang ada di pelosok," tulis warga dalam surat tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menanti langkah konkret dari pemangku kebijakan. Masalah aksesibilitas kesehatan di pelosok Sulawesi Barat ini menjadi pengingat bahwa pemerataan pembangunan masih menjadi tantangan besar bagi kepemimpinan nasional maupun daerah.