Tesla memanfaatkan perubahan kebijakan perdagangan Kanada untuk menjual Model 3 rakitan Giga Shanghai dengan harga mulai 39.490 dolar Kanada atau sekitar Rp 464 juta. Langkah strategis ini menciptakan jurang harga signifikan dibandingkan pasar Amerika Serikat sekaligus menekan produsen otomotif konvensional di Amerika Utara. Fenomena tersebut menandai babak baru persaingan mobil listrik setelah mencairnya hubungan dagang Kanada-China pada awal 2026.
Tesla resmi mendatangkan Model 3 Premium RWD dari pabrik Giga Shanghai ke pasar Kanada dengan banderol yang jauh lebih kompetitif. Konsumen di Kanada kini bisa memboyong sedan listrik tersebut dengan harga setara 29.000 dolar AS (sekitar Rp 464 juta). Angka ini terpaut jauh dari harga di Amerika Serikat, di mana konsumen harus membayar minimal 36.990 dolar AS (sekitar Rp 591 juta) untuk varian standar yang memiliki fitur lebih terbatas.
Perbedaan harga ini menjadi sorotan karena unit Model 3 di Amerika Serikat masih diproduksi di pabrik Fremont, California. Sebaliknya, unit untuk pasar Kanada kini sepenuhnya mengandalkan efisiensi produksi dari China. Meski unit dari Shanghai ini tidak berhak menerima subsidi Electric Vehicle Affordability Program sebesar 5.000 dolar Kanada, harga dasarnya yang rendah tetap membuatnya jauh lebih menarik bagi pembeli lokal.
Kembalinya Tesla China ke pasar Kanada merupakan dampak langsung dari manuver politik Perdana Menteri Mark Carney. Pada Januari 2026, Carney berhasil menegosiasikan kesepakatan dagang baru dengan Beijing yang menurunkan bea masuk kendaraan listrik asal China menjadi hanya 6,1 persen. Kebijakan ini menggantikan tarif proteksionis 100 persen yang sempat diterapkan pemerintah Kanada sebelumnya pada akhir 2024.
Kesepakatan tersebut memberikan kuota tahunan sebanyak 49.000 unit mobil listrik asal China untuk masuk ke Kanada dengan tarif rendah. Tesla bergerak cepat mengamankan kuota ini sebelum kompetitor lain mengambil celah. Langkah ini sangat krusial mengingat Kanada juga menerapkan tarif 25 persen untuk kendaraan listrik rakitan Amerika Serikat sebagai balasan atas kebijakan perdagangan Washington.
Kondisi geopolitik ini memberikan keuntungan logistik bagi Tesla. Perusahaan milik Elon Musk ini sudah memiliki infrastruktur penjualan dan pengiriman yang matang di Kanada. Keunggulan tersebut memungkinkan Tesla untuk langsung membanjiri pasar sebelum raksasa otomotif China lainnya, seperti BYD, merealisasikan rencana pembukaan 20 diler mereka di negara tersebut.
Menariknya, Model 3 versi Kanada ini menawarkan spesifikasi yang lebih tinggi dibandingkan varian termurah di Amerika Serikat. Pembeli di Kanada mendapatkan fitur premium seperti layar sentuh di kursi belakang, roda kemudi dengan pengaturan elektrik, hingga radio FM. Fitur-fitur ini justru absen pada Model 3 varian dasar yang dijual untuk pasar domestik Amerika Serikat.
Meskipun varian Amerika Serikat menawarkan jarak tempuh yang lebih jauh, selisih harga mencapai 13.000 dolar AS (sekitar Rp 208 juta) membuat unit asal China menjadi opsi yang sulit ditolak. Tesla tetap mempertahankan produksi Model 3 Performance AWD dari pabrik Amerika Serikat untuk pasar Kanada, namun harganya melonjak drastis hingga 74.990 dolar Kanada.
Kehadiran Model 3 murah di Kanada diprediksi akan memaksa produsen otomotif Amerika Serikat untuk mendesain ulang strategi harga mereka. Saat ini, mobil listrik dengan harga serupa di AS sangat terbatas, seperti Chevrolet Equinox EV yang dibanderol mulai 34.995 dolar AS. Jika merek Amerika ingin tetap kompetitif di pasar global yang sudah dimasuki produk China, efisiensi biaya menjadi harga mati.
Ford dikabarkan sedang menyiapkan truk pikap listrik ukuran menengah seharga 30.000 dolar AS yang dibangun di atas Universal EV Platform terbaru. Di sisi lain, Tesla sendiri dilaporkan tengah menghidupkan kembali rencana pengembangan mobil listrik murah (Model 2) untuk membendung dominasi merek China. Persaingan harga ini pada akhirnya akan menguntungkan konsumen, meski proteksionisme di pasar Amerika Serikat tetap menjadi penghalang utama bagi masuknya unit rakitan Shanghai.
Bagi industri otomotif global, kasus Kanada ini menjadi eksperimen nyata tentang apa yang terjadi ketika hambatan tarif terhadap produk China dilonggarkan. Penetrasi Tesla dengan unit Giga Shanghai membuktikan bahwa efisiensi manufaktur China masih menjadi tolok ukur utama dalam menekan harga kendaraan listrik di tingkat dunia.