MAMUJU — Aktivitas pemakaman perdana warga keturunan Tionghoa di Dusun Salurombia, Desa Botteng Utara, memicu kemarahan warga setempat. Mereka mengaku tidak pernah mendapat pemberitahuan atau penjelasan dari pihak mana pun terkait rencana penggunaan lahan tersebut.
Informasi yang beredar di kalangan warga menyebutkan bahwa lokasi itu akan dijadikan area pekuburan Tionghoa secara berkelanjutan. Kekhawatiran semakin menjadi setelah beredar kabar bahwa dalam waktu dekat akan ada tujuh pemakaman lagi di tempat yang sama.
Salah seorang pemuda Botteng Utara, Muh Ikram, menyampaikan penolakan secara terbuka. Ia menyebutkan bahwa masyarakat akan mengambil langkah tegas jika aktivitas pemakaman terus berlanjut.
“Kami menolak adanya pekuburan ini karena masyarakat tidak pernah diberikan penjelasan sebelumnya. Berdasarkan informasi yang kami terima, lokasi ini akan terus dijadikan pekuburan Tionghoa. Bahkan disebutkan masih ada tujuh pemakaman lagi yang akan dilaksanakan,” ujar Muh Ikram dalam keterangan tertulis yang diterima Rakyatsulbar.com, Jumat (15/5/2026).
Ia menegaskan, warga siap menutup akses menuju area pekuburan jika aktivitas penguburan terus dilakukan tanpa ada kejelasan dari pemerintah daerah.
Menurut informasi yang berkembang di tengah masyarakat, lahan yang digunakan untuk pemakaman tersebut merupakan aset milik Pemerintah Daerah Kabupaten Mamuju. Namun, belum ada konfirmasi resmi dari instansi terkait mengenai status kepemilikan dan peruntukan lahan itu.
Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Mamuju segera turun tangan. Mereka meminta agar aktivitas pemakaman dihentikan sementara sebelum terjadi gesekan sosial di tengah masyarakat.
“Kami minta pemda segera mengambil langkah dan menghentikan aktivitas pemakaman di lokasi tersebut sebelum menimbulkan konflik,” tambah Muh Ikram.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Mamuju maupun pihak terkait lainnya mengenai polemik ini. Warga berharap ada mediasi dan sosialisasi yang melibatkan semua pihak agar persoalan ini tidak berlarut-larut.
Desa Botteng Utara selama ini dikenal sebagai kawasan yang heterogen, namun persoalan peruntukan lahan pemakaman tanpa komunikasi publik menjadi pemicu ketegangan yang tak terduga.