Pasar Mobil Listrik Global Terbelah Pola K, Dominasi China di Asia Tenggara Tinggalkan Amerika Serikat

Penulis: Rendi Kusuma  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 01:10:07 WIB
Penjualan mobil listrik global mencapai 25 persen pangsa pasar otomotif pada 2024.

SULAWESI BARAT — Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan kontras yang tajam pada peta adopsi kendaraan listrik dunia. Penjualan global sebenarnya tumbuh pesat hingga menguasai 25 persen pangsa pasar otomotif. Namun, pertumbuhan ini tidak merata karena Amerika Serikat tertinggal jauh di belakang wilayah lain.

Bagaimana China Menguasai Pasar Asia Tenggara dan Amerika Selatan?

Pabrikan Tiongkok bergerak cepat mengamankan pasar negara berkembang dengan menawarkan harga yang realistis. Di Asia Tenggara, lebih dari separuh mobil listrik yang terjual merupakan buatan perusahaan China. Thailand bahkan sudah mencapai titik impas harga antara EV dan kendaraan konvensional dalam dua tahun terakhir.

Langkah agresif ini mematahkan teori lama bahwa mobil listrik terlalu mahal untuk negara berkembang. Di China sendiri, hampir 55 persen mobil baru yang terjual kini bertenaga listrik. Faktor harga menjadi kunci utama karena dua pertiga EV di sana dibanderol lebih murah daripada mobil berbahan bakar fosil.

Hambatan Regulasi yang Membuat Pasar Amerika Serikat Mandek

Kondisi sebaliknya terjadi di Amerika Serikat, di mana pangsa pasar EV tertahan di kisaran 10 persen. Kebijakan proteksionisme lewat regulasi One Big Beautiful Bill Act justru mematikan insentif pajak bagi konsumen. Aturan ini juga menutup rapat pintu masuk bagi pabrikan China yang sebenarnya bisa merangsang kompetisi harga di tingkat konsumen.

Akibatnya, pabrikan rintisan lokal seperti Rivian dan Lucid kini menghadapi jalan yang sangat terjal. Mereka terperangkap di pasar domestik yang kehilangan momentum pertumbuhan. Sementara itu, raksasa otomotif tradisional AS masih bisa bertahan sementara dengan mengandalkan penjualan mobil fosil yang lebih menguntungkan.

Dilema Pabrikan Tradisional dan Risiko Fatal Mundur dari EV

Sikap setengah hati dalam transisi ini membawa risiko jangka panjang yang sangat besar bagi pabrikan legendaris. Honda, misalnya, baru-baru ini membatalkan tiga proyek mobil listrik mereka. Keputusan mundur ini dinilai berbahaya bagi masa depan mereka sebagai produsen global.

Langkah mundur tersebut membuat Honda kehilangan kesempatan mempelajari efisiensi produksi massal seperti yang dilakukan Tesla dan BYD. Lebih dari itu, mereka terancam tertinggal dalam pengembangan kendaraan berbasis perangkat lunak (software-defined vehicles). Padahal, arsitektur EV merupakan fondasi terbaik untuk teknologi masa depan tersebut.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya di Industri EV Global?

Tren penurunan biaya produksi ini diperkirakan tidak akan terbendung lagi. Lembaga riset Gartner memproyeksikan biaya produksi mobil listrik murni akan lebih murah daripada mobil konvensional mulai tahun depan. Hal ini akan terjadi bahkan tanpa bantuan subsidi pemerintah sekalipun.

Meski begitu, dominasi China tetap akan menghadapi tantangan baru berupa potensi tarif impor dari negara-negara barat. Saat ini, kapasitas pabrik di China mampu memenuhi 65 persen total kebutuhan dunia. Dengan sokongan kuat pemerintahnya, pabrikan China memiliki nafas yang lebih panjang untuk bertahan dalam perang harga global.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top