SULAWESI BARAT — Southampton resmi diusir dari babak play-off Championship setelah terbukti memata-matai sesi latihan lawan. Komisi disiplin independen juga menjatuhkan hukuman pengurangan empat poin untuk musim 2026-27. Konsekuensinya, The Saints bukan hanya kehilangan tiket ke Premier League, tetapi juga harus menghadapi krisis keuangan yang serius.
Analis keuangan sepak bola Kieran Maguire memperingatkan bahwa Southampton harus sangat berhati-hati dengan utang yang membengkak. Klub tercatat memiliki kewajiban 99 juta poundsterling dalam bentuk biaya transfer yang belum dibayar hingga akhir 2025.
"Jumlah itu akan menyerap banyak uang tunai yang seharusnya menjadi modal operasional klub tahun ini," ujar Maguire kepada BBC Radio Solent, Senin (15/4). Selain itu, total utang Southampton kepada kreditur mencapai lebih dari 100 juta poundsterling, meski sebagian besar merupakan pinjaman dari perusahaan induk.
Kegagalan promosi memiliki dampak jangka pendek dan panjang. Maguire menjelaskan bahwa musim depan Southampton hanya akan menerima dana siaran sekitar 35 juta poundsterling dari parachute payment—turun drastis dari minimal 110 juta poundsterling jika mereka bermain di Premier League.
"Jika ditotal, inilah mengapa laga final play-off disebut sebagai pertandingan senilai 200 juta poundsterling. Anda mendapatkan uang TV tambahan, dua tahun ekstra parachute payment, dan kesempatan bersaing dengan elit sepak bola Eropa," tambah Maguire.
Maguire juga menyoroti potensi masalah hukum yang belum selesai. Klub seperti Wrexham yang nyaris masuk play-off dikabarkan bisa mengajukan gugatan terhadap Southampton. Lebih rumit lagi, para pemain Southampton yang merasa hak mereka untuk bermain di Premier League dirampas juga berpotensi menuntut klub.
"Kontrak pemain sepak bola sangat terikat pada insentif kesuksesan. Saya rasa kita belum melihat akhir dari masalah hukum musim panas ini," ujar Maguire. Ia menambahkan bahwa keheningan klub dalam beberapa hari terakhir kemungkinan karena investigasi internal untuk mengetahui sejauh mana hierarki manajemen terlibat dalam skandal ini.
Hingga berita ini diturunkan, nasib pelatih kepala Tonda Eckert yang disebut-sebut mengotorisasi aksi spionase masih belum jelas. Southampton kini harus menjalani musim depan di Championship dengan posisi semakin terpuruk, baik di papan klasemen maupun neraca keuangan.