PASANGKAYU — Setelah beberapa pekan tertekan, harga TBS kelapa sawit di Sulawesi Barat akhirnya menunjukkan tren positif. TMI Sulbar mencatat, PT Unggul Widya di Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, menjadi PKS dengan harga tertinggi, yakni Rp2.410 per kilogram.
Di posisi kedua, PT PGL di Barakang, Kabupaten Mamuju Tengah, membanderol TBS sebesar Rp2.385 per kilogram. Sementara itu, PT Manakarra Unggul Lestari (MUL) di Tommo, Mamuju Tengah, menaikkan harga Rp50 menjadi Rp2.300 per kilogram.
Meski mayoritas PKS sudah bergerak naik, masih ada perusahaan yang belum menyesuaikan secara signifikan. PT Pasangkayu (Astra Group) menaikkan harga TBS luar sebesar Rp120 menjadi Rp2.255 per kilogram. Sedangkan PT Surya Raya Lestari (Astra Group) masih bertahan di angka Rp2.110 per kilogram.
“Kenaikan ini tentu memberikan harapan baru bagi petani. Kami mengapresiasi perusahaan yang sudah melakukan penyesuaian harga sesuai perkembangan pasar,” ujar H. Suwanto, Ketua DPW TMI Sulbar, dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Suwanto mendesak seluruh PKS di Sulbar segera mengevaluasi harga beli TBS. Ia menegaskan, harga yang diterima petani harus mencerminkan kondisi pasar yang riil dan memberikan keuntungan wajar.
Ia juga mengingatkan pernyataan Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono, yang juga Pembina Tani Merdeka Indonesia. Menurut Suwanto, pemerintah pusat berkomitmen melindungi petani sawit dari praktik penetapan harga di bawah pasar.
“Petani adalah ujung tombak industri sawit. Jangan sampai mereka terus dirugikan oleh harga yang tidak masuk akal,” tegasnya.
TMI Sulbar menyatakan bakal terus memantau perkembangan harga TBS di seluruh PKS yang beroperasi di Sulawesi Barat. Langkah ini merupakan bentuk pengawalan terhadap kepentingan petani sawit di daerah tersebut.
H. Suwanto berharap tren kenaikan ini berkelanjutan. Sebab, harga TBS yang layak sangat penting untuk menjaga semangat petani dalam mengelola kebun dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.