Perubahan ini diungkapkan langsung oleh Sterling Anderson, yang sebelumnya menjabat sebagai chief product officer di Aurora, startup self-driving yang ia dirikan pada 2016, dan bergabung ke GM setahun lalu. Menurut Anderson, industri otomotif kini memasuki babak yang sama sekali berbeda dari pendekatan tradisional yang ia sebut sebagai "highly empirical iterative design development and engineering."
Dari Trial-and-Error ke Simulasi Digital
Anderson menggambarkan era pertama rekayasa sebagai proses manusia meniru alam secara coba-coba. "Ada masa ketika manusia melihat burung dan berpikir, 'OK, sayap itu tampaknya bekerja cukup baik. Mari kita desain sesuatu yang mirip dengannya,'" katanya. Proses itu disebutnya sebagai iterasi lambat yang hanya menghasilkan sesuatu yang "marginally feasible."
Kini, GM menggunakan teknologi CFD (Computational Fluid Dynamics), FEA (Finite Element Analysis), dan digital twins untuk memvirtualisasikan hampir seluruh proses pengembangan. AI/ML mengambil alih tugas-tugas komputasi berat yang dulu memakan waktu berjam-jam, memangkasnya menjadi hitungan detik.
Dampak pada Kecepatan dan Biaya Produksi
Penghematan waktu dari 15 jam ke satu menit bukan sekadar efisiensi teknis. Dalam industri otomotif, kecepatan pengembangan berarti pengurangan biaya riset, percepatan time-to-market, dan kemampuan untuk menguji lebih banyak variasi desain dalam waktu yang sama. Bagi konsumen, ini bisa berarti kendaraan yang lebih matang secara teknis dan lebih cepat hadir di pasar.
GM tidak menyebutkan secara spesifik kapan teknologi ini akan berdampak langsung pada model yang dijual di Indonesia. Namun, sebagai produsen mobil terbesar di Amerika Serikat, setiap perubahan fundamental dalam proses rekayasa GM pada akhirnya akan memengaruhi lini produksi global, termasuk model yang diekspor ke Asia.
Era Baru Rekayasa: Komputer yang Berpikir
Anderson menyebut fase ini sebagai "third epoch of engineering and design." Jika era pertama adalah trial-and-error manual dan era kedua adalah bantuan komputer untuk menggambar, maka era ketiga adalah saat komputer tidak hanya menghitung tetapi juga mengambil keputusan desain. "Komputer benar-benar berpikir dan merancang," tegasnya.
Pendekatan ini memungkinkan insinyur GM untuk menguji ribuan skenario dalam satu menit—sesuatu yang dulu membutuhkan tim besar dan waktu berhari-hari. Hasilnya, pengembangan kendaraan tidak lagi dibatasi oleh kecepatan manusia dalam menghitung, melainkan oleh imajinasi dan kreativitas tim desain.