SULAWESI BARAT — Penguatan IHSG ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti BRPT, BMRI, dan AMMN. Namun, tekanan jual dari investor asing masih terlihat dengan nilai jual bersih mencapai Rp352,33 miliar di pasar reguler dan Rp259,36 miliar di seluruh pasar.
Secara sektoral, delapan dari sebelas sektor berhasil ditutup hijau. Sektor Basic Industry memimpin dengan kenaikan 2,10%, sementara sektor Health menjadi satu-satunya yang terkoreksi dalam, yakni sebesar 1,24%. Aktivitas perdagangan juga meningkat, dengan nilai transaksi tercatat Rp12,08 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp10,54 triliun pada perdagangan sebelumnya.
Peningkatan likuiditas di pasar modal Indonesia sejalan dengan sentimen positif dari bursa global. Indeks Dow Jones naik 0,27%, S&P 500 bertambah 0,81%, dan Nasdaq menguat 1,30% pada perdagangan terakhir di Amerika Serikat.
Di dalam negeri, likuiditas tambahan juga berasal dari dana kelebihan pemesanan (oversubscribed) lima saham IPO yang mencapai Rp27,91 triliun. Indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia turut mencatatkan penguatan masing-masing sebesar 0,34% dan 0,62%.
Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) resmi mengoperasikan Mayapada Hospital Jakarta Timur pada Kamis (9/7). Rumah sakit ini menjadi fasilitas kesehatan kedelapan milik perseroan dengan kapasitas awal 107 tempat tidur dan nilai investasi sekitar Rp600 miliar.
Manajemen SRAJ tengah mengkaji pembangunan satu hingga dua rumah sakit baru di Jakarta. Selain itu, perseroan juga akan membangun Tower 3 Mayapada Hospital Jakarta Selatan di Lebak Bulus dengan investasi sekitar Rp1 triliun. Proyek ini ditargetkan meningkatkan kapasitas rumah sakit menjadi sekitar 450 tempat tidur.
Ekspansi juga berlanjut ke luar Jakarta. SRAJ melanjutkan pengembangan rumah sakit di Tangerang dan Surabaya, serta membangun rumah sakit internasional di KEK Kesehatan Batam yang ditargetkan beroperasi pada 2028. Satu unit rumah sakit tambahan di Surabaya juga disiapkan untuk beroperasi pada 2029.
Bangun Kosambi Sukses (CBDK) memperkuat struktur permodalan dua anak usahanya. Perseroan menyetor tambahan modal sebesar Rp90,10 miliar ke Industri Pameran Nusantara (IPN) melalui penerbitan 5,30 juta saham Seri B, sehingga modal disetor IPN meningkat menjadi Rp2,65 triliun. Kepemilikan CBDK di IPN tetap sebesar 99,99%.
Bersamaan dengan itu, IPN memperbarui klasifikasi KBLI ke versi 2025 dan memperluas ruang lingkup usaha. Ekspansi ini mencakup penyewaan properti, pengelolaan pusat perbelanjaan, pergudangan, hingga bisnis makanan dan minuman.
Sementara itu, Samudra Mega Utama (SMU), anak usaha CBDK lainnya, meningkatkan modal dasar dari Rp1,20 miliar menjadi Rp39,60 miliar. Langkah ini dilakukan melalui penerbitan 23 ribu saham baru senilai Rp13,80 miliar, yang membuat modal disetor SMU naik menjadi Rp14,40 miliar.
Dian Swastatika Sentosa (DSSA) melalui entitas anak DSST Mas Gemilang (DSST) melakukan transaksi afiliasi senilai Rp8,54 triliun. Transaksi yang dilakukan pada 6 Juli 2026 ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan Bintang Mas Tunggal (BMT).
Perseroan menyatakan bahwa transaksi tersebut termasuk transaksi afiliasi tanpa benturan kepentingan. Nilainya juga memenuhi kriteria transaksi material karena melebihi 20% namun masih di bawah 50% dari total ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026.