SULAWESI BARAT — Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah kepulauan Sangihe pada Kamis lalu memicu banjir bandang dan longsor di sejumlah titik. Material berupa tanah, batu, dan pohon tumbang menutup akses jalan serta merusak tiang dan kabel distribusi listrik. Enam desa—Tiwelo, Bentung, Bukide, Malamenggu, Balane, dan Lesabe—menjadi wilayah yang paling parah terdampak.
PLN segera mengerahkan tim gabungan dari UP3 Tahuna dan Petugas Pelayanan Teknik (Yantek) ULP Tamako. Mereka tidak hanya melakukan perbaikan jaringan, tetapi juga mengamankan lokasi dan membersihkan material longsor agar proses pemulihan berjalan cepat.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (UID Suluttenggo), Usman Bangun, menekankan pentingnya kesiapsiagaan personel di tengah cuaca ekstrem yang melanda wilayah kepulauan.
“Kami menginstruksikan seluruh unit untuk siaga penuh menghadapi potensi gangguan akibat cuaca ekstrem. Kecepatan tim di lapangan menjadi wujud komitmen PLN menghadirkan pasokan listrik yang andal dan aman bagi masyarakat,” ujar Usman dalam keterangan resmi, Kamis (23/7/2026).
Manager PLN UP3 Tahuna, Eko Yuwono, menambahkan bahwa medan yang berat tidak menghalangi proses normalisasi. Personel langsung bergerak begitu menerima laporan gangguan, dengan tetap mengutamakan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Respons cepat PLN mendapat apresiasi dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sangihe, Wandu C.C. Labesi. Menurutnya, sinergi antara PLN, BPBD, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan menjadi faktor kunci dalam mempercepat penanganan dampak bencana.
Hingga Kamis malam pukul 22.00 WITA, sebanyak 94 persen pelanggan di wilayah terdampak telah kembali menikmati aliran listrik. PLN memastikan proses pemulihan akan terus berlanjut hingga seluruh pelanggan yang sempat padam kembali mendapat pasokan normal.