SULAWESI BARAT — Fakta mengejutkan terungkap dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2026 di Jakarta, Selasa (21/7). PLN mengaku setiap pembangkit listrik yang dioperasikannya secara otomatis memproduksi hidrogen sebagai bagian dari sistem pendingin. Namun, mayoritas produksi justru berakhir menganggur tanpa nilai tambah.
"Kami produksi 200 ton, yang dipakai 75 ton. Sisanya 125 ton itu nganggur," ujar Darmawan dalam sambutannya di acara tersebut.
Ironisnya, infrastruktur pendukung untuk memanfaatkan hidrogen justru sudah tersedia. PLN mengklaim telah berkolaborasi dengan Pertamina untuk membangun Hydrogen Refueling Station (HRS) atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH). Fasilitas itu disebut sudah siap beroperasi.
"Rantai pasoknya dari mana? Nah, kami (PLN) kolaborasi dengan Pertamina. Jadi, kalau Hydrogen Refueling Station itu sudah ada dan siap pakai. Tetapi, mobilnya belum ada,” keluh Darmawan.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Pasokan energi bersih melimpah, stasiun pengisian tersedia, tapi tidak ada kendaraan yang bisa menggunakannya.
Untuk memecah kebuntuan itu, Darmawan secara terbuka meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turun tangan. Ia mengusulkan agar Bahlil berkomunikasi dengan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk mengubah bahan bakar armada TransJakarta menjadi hidrogen.
"Barangkali Bapak (Bahlil) bisa melobi ke Gubernur DKI, begitu. TransJakarta," kata Darmawan.
Langkah ini dinilai strategis karena jumlah armada TransJakarta yang besar bisa menjadi offtaker utama bagi kelebihan produksi hidrogen PLN. Darmawan mengaku telah berdiskusi dengan pabrikan kendaraan asal Jepang, Jerman, dan China soal ketersediaan bus bertenaga hidrogen.
Jika rencana ini terealisasi, skema pengadaannya pun sudah dibayangkan. Darmawan menyebut akan ada kerja sama segitiga antara PLN, Pertamina, dan Kementerian ESDM.
"Nanti Pertamina dengan PLN bersama-sama menyediakan busnya. Tinggal kemudian nanti bus hidrogen ada logonya ESDM, PLN, Pertamina, kita berkolaborasi membangun transportasi berbasis hidrogen,” jelasnya.
Langkah ini sejalan dengan Peta Jalan Nasional Hidrogen dan Amonia yang telah disusun pemerintah. Dalam dokumen tersebut, sektor transportasi menjadi salah satu dari empat sektor utama pemanfaatan energi hidrogen di Indonesia. Kini, tantangannya tinggal bagaimana mengubah rencana di atas kertas menjadi bus yang benar-benar melaju di jalanan Ibu Kota.