PGN Gagas Genjot Gas CNG Gantikan LPG Impor, Jogja Jadi Lokomotif dengan Konsumsi 74.000 Meter Kubik per Bulan

Penulis: Rendi Kusuma  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:02:01 WIB
Petugas PGN Gagas memeriksa instalasi Gas Transport Module (GTM) bertekanan 200 bar di Sleman, Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

SULAWESI BARAT — PGN Gagas meyakini CNG bisa menjadi jawaban atas ketergantungan Indonesia pada LPG impor. Berbeda dengan LPG yang sebagian besar didatangkan dari luar negeri, CNG memanfaatkan gas bumi domestik yang diangkut dengan sistem kompresi khusus.

"Karena ini domestik. Tidak impor. Jadi asli Indonesia," ujar Santiaji Gunawan di Sleman, Rabu (19/8/2026).

Yogyakarta Jadi Bukti: Tanpa Pipa, Gas Tetap Mengalir

Yogyakarta menjadi contoh nyata bagaimana CNG menjawab keterbatasan infrastruktur. Wilayah ini tidak memiliki sumber gas di dekatnya, sehingga jaringan pipa konvensional mustahil dibangun.

Solusinya, gas bumi dikompresi dan diangkut menggunakan Gas Transport Module (GTM). Setibanya di lokasi, tekanan diturunkan melalui Pressure Regulating Station (PRS) sebelum disalurkan ke pelanggan.

"Ini adalah ide kita bahwa biasanya kalau ada sumber gas, pakai pipa. Karena Jogja ini tidak ada sumber gasnya, jauh dari sumber gas, makanya dengan cara CNG," jelas Santiaji.

Tekanan 200 Bar Diturunkan Bertahap Demi Keamanan

Aspek keselamatan menjadi prioritas utama. Gas dalam GTM bertekanan sekitar 200 bar, lalu diturunkan di PRS sebelum masuk jaringan rumah tangga. Untuk penggunaan kompor, tekanan kembali diregulasi melalui Regulating Station (RS).

"Kementerian tetap sedang mengkaji terus aspek safety-nya. Supaya yang nanti disampaikan masyarakat adalah barang dengan aspek safety yang tinggi," tegasnya.

PGN Gagas juga melakukan patroli jaringan dan menyiagakan operator 24 jam untuk mengantisipasi kebocoran. Gas yang disalurkan telah diberi odoran agar masyarakat bisa mendeteksi kebocoran sejak dini.

Melayani Rumah Tangga hingga Hotel, Ekonomi Jadi Kunci

PGN Gagas tidak hanya menyasar industri. Pemanfaatan CNG kini mencakup rumah tangga melalui sistem jaringan klaster, serta pelanggan komersial seperti hotel, restoran, dan kafe dengan skema point-to-point.

Di Yogyakarta, volume penggunaan CNG tercatat 74.000 meter kubik per bulan dan berpotensi naik sekitar 10.000 meter kubik. Namun, Santiaji mengingatkan bahwa pengembangan CNG harus mempertimbangkan aspek keekonomian, terutama jarak antara sumber gas dan lokasi pelanggan.

"Yang penting kan ekonomian. Karena kalau dengan ekonomi, masyarakat bisa menyerap harganya kan lebih enak," katanya.

Dengan keseimbangan antara aspek keselamatan dan keekonomian, PGN Gagas berharap CNG menjadi pilihan energi masyarakat sekaligus mengurangi beban impor LPG nasional.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top