SULAWESI BARAT — Paradoks pariwisata Indonesia terasa makin nyata: wisatawan asing rela terbang belasan jam dan menghabiskan waktu berminggu-minggu menikmati Bali hingga Flores, sementara warga lokal harus berpikir dua kali untuk sekadar liburan akhir pekan ke kota tetangga. Perbedaan akses ini memicu perdebatan di media sosial dan menyoroti dua hambatan utama: keterbatasan anggaran dan waktu istirahat kerja.
Keluhan soal mahalnya tiket pesawat dalam negeri bukan hal baru. Untuk sejumlah rute, biaya penerbangan antarwilayah di Indonesia bahkan bisa melebihi tiket ke Kuala Lumpur atau Singapura. Sejumlah pengamat menilai penyebabnya berlapis: biaya operasional maskapai, harga avtur, biaya perawatan, nilai tukar rupiah, hingga komponen pajak dan pungutan.
Akibatnya, perjalanan menuju destinasi unggulan seperti Raja Ampat, Wakatobi, atau Danau Toba membutuhkan anggaran transportasi yang sangat besar. Padahal rata-rata upah pekerja Indonesia masih berkisar beberapa juta rupiah per bulan, dengan UMP tertinggi yang nominalnya jauh dari standar upah negara maju. Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan pokok, pos liburan menjadi pengeluaran pertama yang dikorbankan.
Data World Population Review tahun 2025 menunjukkan pekerja di sejumlah negara Eropa menikmati gabungan cuti tahunan dan hari libur nasional yang jauh lebih panjang dibanding Indonesia. Kondisi itu mendukung work-life balance dan memberi ruang untuk bepergian.
Di Indonesia, aturan ketenagakerjaan hanya menjamin 12 hari cuti tahunan setelah masa kerja tertentu. Dengan sisa waktu yang terbatas, banyak pekerja memilih menggunakan cuti untuk pulang kampung atau urusan keluarga, bukan untuk eksplorasi wisata. Sementara itu, jadwal libur nasional yang terkonsentrasi di momen tertentu membuat harga tiket dan akomodasi melonjak tajam — lagi-lagi memberatkan kantong.
Kondisi ini paling terasa bagi pekerja sektor swasta dengan gaji UMP, pekerja lepas, dan keluarga muda yang baru memulai rumah tangga. Mereka harus memilih antara menabung untuk liburan keluarga atau memenuhi kebutuhan pendidikan anak dan cicilan rumah. Survei media sosial menunjukkan banyak warganet yang mengaku belum pernah mengunjungi destinasi wisata ikonik di provinsi sendiri, apalagi ke luar pulau.
Di tengah keterbatasan, sebagian traveler mulai beralih ke strategi slow travel — mengunjungi satu destinasi lebih dalam dan lebih lama, alih-alih mencoba banyak tempat dalam waktu singkat. Opsi lain termasuk memanfaatkan promo tiket dari maskapai low-cost carrier, memesan tiket jauh-jauh hari, atau melancong pada periode shoulder season di luar libur nasional.
Namun, solusi struktural tetap bergantung pada kebijakan: penurunan harga avtur, perbaikan infrastruktur bandara di daerah, hingga penambahan hari libur nasional. Tanpa itu, mimpi keliling Indonesia akan terus menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati segelintir orang.
Bagi Anda yang tetap ingin menjelajah negeri sendiri dengan anggaran terbatas, mulailah dari destinasi terdekat yang bisa dijangkau darat, manfaatkan kereta api atau bus — dan rencanakan perjalanan Anda berbulan-bulan sebelumnya agar bisa mengunci harga tiket lebih murah.