MAMUJU — Sebanyak 3.042 titik panas (hotspot) terdeteksi di Sulawesi Barat sepanjang 1 Januari hingga 25 Agustus 2026. Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Mamuju Tengah dengan 1.105 titik, disusul Kabupaten Mamuju dengan 847 titik.
Kondisi ini diperparah dengan 77 kasus kebakaran permukiman yang tersebar di enam kabupaten. Di sektor pertanian, kekeringan telah melumpuhkan lahan seluas 3.141,36 hektare, dengan Kabupaten Polewali Mandar menjadi wilayah terdampak paling parah mencapai 1.379,96 hektare.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau masih akan berlangsung sepanjang Agustus hingga September 2026. Prediksi ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mempercepat langkah antisipasi.
Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, menginstruksikan jajarannya bergerak cepat. Posko siaga kini didirikan di titik-titik rawan, didukung armada damkar hingga water canon milik kepolisian yang disiagakan di masing-masing kabupaten.
Imbauan keras disampaikan Gubernur Suhardi Duka kepada seluruh elemen masyarakat, terutama petani dan pekebun. Praktik membakar vegetasi saat membuka atau membersihkan lahan ditegaskan sebagai pelanggaran hukum yang diancam sanksi pidana.
"Jangan melakukan pembakaran dalam bentuk alasan apapun. Itu tentunya kita berharap bahwa Sulawesi Barat ini bisa terhindar dari kebakaran yang semakin meluas," ungkap Suhardi Duka.
Dampak kekeringan tahun ini terbilang luas. Dari total 3.141,36 hektare lahan pertanian yang gagal panen atau mengalami puso, Polewali Mandar mencatat kerugian terbesar. Wilayah lain yang turut terdampak meliputi Mamuju, Mamuju Tengah, Majene, Pasangkayu, dan Mamasa.
Pemerintah daerah berharap kolaborasi lintas sektor mampu menekan laju perluasan karhutla. Selain memperkuat posko, sosialisasi kepada masyarakat di tingkat RT/RW terus digencarkan agar warga melaporkan potensi titik api lebih dini.
"Semoga ini menjadi perhatian kita dan kita doakan semoga hujan segera turun, kemarau berkepanjangan ini bisa berhenti, dan kita Sulawesi Barat selamat dari karhutla dan kebakaran pemukiman," pungkas Suhardi Duka.