Potensi Logam Tanah Jarang Mamuju Capai 8 Blok, tapi Hilirisasi Butuh Waktu 10-20 Tahun

Penulis: Puguh Triyono  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 13:00:14 WIB
Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka memaparkan potensi dan tantangan pengembangan Logam Tanah Jarang di Mamuju.

MAMUJU — Langkah pemerintah pusat mengelola potensi Logam Tanah Jarang di Mamuju memasuki babak baru setelah rapat koordinasi di Jakarta pada 13 Mei lalu. Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, mengungkapkan bahwa dirinya dipanggil untuk membahas proyeksi pengembangan komoditas strategis ini bersama Badan Industri Mineral (BIM), PT Perminas, dan Danantara.

“Saya dipanggil ke Jakarta untuk rapat bersama Badan Industri Mineral, PT Perminas, dan Danantara terkait tanah jarang. Dalam rapat tanggal 13 Mei lalu, saya mendengarkan paparan mengenai potensi LTJ di Mamuju,” kata Suhardi kepada wartawan, Rabu, 20 Mei 2026.

Mengapa Teknologi Pemurnian LTJ Masih Jadi Penghambat?

Suhardi mengakui bahwa Indonesia belum memiliki teknologi pengolahan LTJ secara mandiri. Saat ini, penguasaan teknologi pemurnian masih dikuasai oleh China, dan negara lain seperti Amerika Serikat pun masih bergantung pada pasokan dari Negeri Tirai Bambu.

“Teknologi pengolahan LTJ masih banyak dikuasai Cina. Indonesia belum memiliki teknologi itu, sementara negara lain seperti Amerika Serikat juga masih bergantung pada Cina,” ujarnya blak-blakan.

Untuk memecahkan kebuntuan ini, pemerintah mendorong riset domestik dengan melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI). Kedua kampus tengah mengembangkan formula pengolahan mandiri yang saat ini masih dalam skala laboratorium.

Baru 10 Hektare dari 8 Blok Potensial yang Diteliti

Dari total delapan blok kawasan potensial yang teridentifikasi di Mamuju, aktivitas yang berjalan saat ini sengaja dibatasi. Pemerintah hanya mengizinkan penelitian di lahan seluas 10 hektare untuk menjaga ketelitian dan kehati-hatian.

“Yang berjalan sekarang baru penelitian sekitar 10 hektare. Jadi nuansanya masih penelitian dan eksplorasi awal,” jelas Suhardi.

Skala operasional yang terbatas ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang. Pemerintah ingin memastikan tata kelola lingkungan dan sosial berjalan tanpa cela, belajar dari evaluasi hilirisasi mineral lain yang pernah menuai masalah.

Dampak Ekonomi: Penurunan Kemiskinan hingga Serapan Tenaga Kerja

Meski prosesnya panjang, Suhardi optimistis megaproyek ini akan memberikan dampak masif bagi masyarakat Sulbar. Ia menyebutkan beberapa target utama yang diharapkan, mulai dari penurunan angka kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal.

“Mineral tanah jarang sangat dibutuhkan dunia saat ini dan menjadi komponen penting dalam berbagai industri modern,” ujarnya.

LTJ merupakan bahan baku utama untuk memproduksi komponen kendaraan listrik, teknologi pertahanan, jet tempur, hingga sistem pemandu rudal. Presiden RI dilaporkan telah memasang target ambisius agar Indonesia menjadi pemain utama hilirisasi LTJ global.

Suhardi meminta publik memahami bahwa proses membangun industri yang mandiri dan kokoh membutuhkan waktu. Eksploitasi komersial tanah jarang di Mamuju dirancang sebagai proyek jangka panjang yang terukur, dengan estimasi waktu 10 hingga 20 tahun ke depan.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: sulbaronline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top