POLEWALI MANDAR — Dampak cuaca ekstrem di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Bagi masyarakat kecil, bencana ini telah merenggut sumber penghidupan utama, baik di sektor pertanian maupun perikanan. Sawah terancam puso, kebun kakao hangus terbakar, dan nelayan tradisional kehilangan pendapatan harian.
Muh. Muhsin R, Anggota Dewan Daerah Walhi Sulawesi Barat, menegaskan bahwa persoalan ini telah menyentuh kebutuhan paling mendasar warga. "Petani membutuhkan air untuk mempertahankan tanaman. Nelayan membutuhkan laut yang aman untuk mencari ikan," ujarnya. Ketika kekeringan dan cuaca laut ekstrem datang bersamaan, kelompok masyarakat kecil menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.
Salah satu contoh nyata terlihat pada kebun milik Usmar, 35 tahun, warga Desa Karombang, Kecamatan Bulo. Kebakaran menghanguskan sekitar 500 pohon kakao produktif di lahan seluas kurang lebih 0,5 hektare. Kerugian yang dialami tidak bisa dihitung hanya dari nilai pohon yang terbakar, karena aset produktif ini membutuhkan waktu panjang untuk kembali menghasilkan.
Di wilayah pesisir, angin kencang dan kondisi laut ekstrem memaksa nelayan kecil berhenti melaut. Tidak melaut berarti tidak ada pendapatan yang dibawa pulang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Nelayan akhirnya dihadapkan pada pilihan sulit: melaut dalam kondisi ekstrem mengancam keselamatan, atau tidak melaut dan kehilangan pendapatan.
Walhi mendesak pemerintah untuk tidak sekadar meminta warga bersabar menunggu cuaca membaik. Dibutuhkan langkah nyata berupa skema Bantuan Langsung Khusus bagi masyarakat yang kehilangan penghasilan akibat kekeringan dan cuaca ekstrem. Bentuk perlindungan sosial ini dinilai penting karena warga kehilangan pendapatan akibat kondisi di luar kendali mereka.
Pemerintah juga diminta turun langsung ke desa-desa pesisir, pulau-pulau, persawahan, dan kawasan perkebunan pegunungan. Ketersediaan air bersih dan pasokan air untuk pertanian harus dijamin. Selain itu, ketersediaan BBM bersubsidi harus dijaga agar nelayan bisa kembali melaut saat kondisi laut sudah memungkinkan.
Ketika petani kehilangan panen, dampaknya tidak berhenti pada petani saja, tetapi ikut menggerus ketahanan pangan daerah. Ketika nelayan berhenti melaut, pasokan hasil laut dan ekonomi masyarakat pesisir ikut terdampak. Kebakaran kebun kakao pun berarti hilangnya investasi, tenaga, waktu, dan masa depan ekonomi keluarga.
Muhsin menekankan bahwa kekeringan dan cuaca ekstrem tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan musiman yang cukup ditunggu sampai berlalu. Pemerintah harus memiliki data masyarakat rentan, peta wilayah rawan, sistem peringatan dini, dukungan air untuk pertanian, serta skema pemulihan bagi mereka yang kehilangan sumber pendapatan. "Kita memang tidak dapat mengendalikan hujan, tetapi kebijakan harus lebih siap menjawab perubahan cuaca," pungkasnya.