SULAWESI BARAT — Perang Dunia II tidak hanya mengubah peta politik dunia, tetapi juga cara warga Amerika menggunakan mobilnya. Sementara daratan AS tidak mengalami kehancuran fisik seperti Eropa dan Asia, pemerintah federal tetap memaksa warganya berkorban demi kebutuhan perang di luar negeri. Rationing atau penjatahan material perang yang vital mulai diberlakukan pada 1942, dan para pengemudi praktis dipaksa mengurangi perjalanan yang tidak perlu.
Ada pajak penggunaan kendaraan bulanan, sistem penjatahan bensin berbasis profesi, dan batas kecepatan nasional baru sebesar 35 mil per jam. Mobil bukan lagi barang yang mudah didapat—produksi kendaraan sipil pun dihentikan total oleh pemerintah federal pada Februari 1942.
Rubber atau karet ban adalah komoditas industri yang paling ketat diawasi selama konflik. Alasannya sederhana: satu unit tank butuh satu ton karet. Ketika perang dengan Kekaisaran Jepang memutus pasokan, AS kehilangan akses ke lebih dari 95% pasokan karet alam dunia.
Akibatnya, setiap ons karet yang bisa dihemat sangat berarti. Bahkan ban yang mau di-retread (dilapis ulang) pun butuh izin dari dewan penjatahan ban setempat. Menurut National World War II Museum, pemilik mobil hanya boleh memiliki lima ban: empat terpasang di kendaraan dan satu cadangan. Ban lainnya wajib diserahkan ke pemerintah.
Sistem penjatahan bahan bakar nasional mulai berlaku pada Desember 1942. Sebagian besar pengemudi hanya diizinkan memakai 4 galon bensin per pekan. Pekerja dengan jarak tempuh jauh bisa mendapat jatah hingga 10 galon. Pengemudi pengantar barang dan dokter mendapat jatah tak terbatas, namun wajib menempel stiker khusus di mobil mereka.
Satu aturan berlaku untuk semua jenis stiker: tidak ada yang boleh keluar rumah hanya untuk bersenang-senang. Pada Januari 1943, "pleasure driving" atau berkendara untuk hiburan resmi dilarang di sepanjang pesisir timur AS. Bayangkan, malam Minggu pun Anda tidak bisa jalan-jalan keliling kota dengan mobil.
"Victory Speed" adalah langkah pamungkas untuk menghemat karet. Batas kecepatan nasional 35 mph diberlakukan pada Mei 1942. Para ahli menghitung bahwa kecepatan ini menggandakan umur ban dibandingkan jika melaju 60 mph—di samping tentu saja menghemat bensin.
Ban era 1940-an biasanya punya masa pakai sekitar dua tahun. Selama masa perang, ban diperiksa dua kali seminggu untuk memaksimalkan masa pakainya. Stiker pengingat di kaca mobil menuliskan instruksi yang hampir terasa seperti perintah militer: cek tekanan ban secara rutin, kurangi kecepatan sebelum berbelok, dan jangan melaju di atas 35 mph.
Dampaknya pada kepemilikan mobil cukup drastis. Pada 1941, 88% rumah tangga di AS memiliki mobil. Angka itu merosot ke level Great Depression—73% rumah tangga—pada 1945. Mobil-mobil yang tersisa praktis hanya digunakan untuk keperluan yang benar-benar penting. Permintaan baru pulih setelah perang usai dan ban-ban baru mulai mengalir lagi ke pasar.