SULAWESI BARAT — Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Mulai dari memilih sekolah, mengajarkan nilai moral, hingga menentukan gaya hidup yang sesuai. Namun tanpa disadari, beberapa kebiasaan pengasuhan sehari-hari justru bisa menjadi bumerang bagi perkembangan mental anak di masa depan.
Dr. Roseann Capanna-Hodge, psikolog anak, mengungkapkan enam kebiasaan umum yang sebaiknya dihindari. Kebiasaan-kebiasaan ini bisa menghambat kemampuan anak dalam mengelola emosi, membangun kemandirian, dan bersosialisasi. Berikut ulasannya.
1. Menjadikan Gawai sebagai "Penjaga" Anak
Saat ibu kelelahan atau sedang mengejar tenggat pekerjaan, memberikan ponsel pada anak memang terasa seperti penyelamat. Anak jadi tenang, ibu pun bisa fokus. Namun, ketergantungan pada layar elektronik menyimpan risiko besar.
Laporan Common Sense Media tahun 2023 mencatat, anak usia 0-8 tahun menghabiskan lebih dari 2,5 jam per hari di depan layar. Aktivitas ini terbukti memengaruhi suasana hati, pola tidur, hingga perkembangan sosial anak.
Penelitian dari Hopkins Medicine juga menyebutkan bahwa anak yang kecanduan media sosial lebih berpotensi mengalami dampak buruk pada kesehatan mental. Mereka akan kesulitan menghibur diri dan justru menjadikan ponsel sebagai pelarian dari rasa bosan atau emosi yang tidak nyaman.
2. Lupa Bahwa Anak Meniru Apa yang Mereka Lihat
Anak belajar lebih banyak dari observasi dibandingkan nasihat. Ketika orang dewasa di rumah berdebat dengan kasar, menutup diri, atau memperlakukan orang lain dengan tidak hormat, anak akan menyerap perilaku itu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Studi perkembangan anak tahun 2023 menemukan bahwa kemampuan mengelola emosi anak sangat mencerminkan kondisi yang mereka lihat di rumah. Jadi, sebelum menuntut anak bersikap tenang, pastikan ibu sudah memberi contoh yang sama.
3. Membiarkan Pola Negatif Terus Berulang
Tekanan keuangan, kurang tidur, dan tuntutan pekerjaan rumah tangga memang bisa mengikis kesabaran. Namun, terlalu sering berteriak atau mengkritik anak dapat memengaruhi rasa aman dan kepercayaan dirinya.
Menurut Capanna-Hodge, kebiasaan meninggikan suara membuat anak merasa takut dan kesulitan mengelola stres. Jika pola ini dibiarkan, anak akan tumbuh dengan kecemasan dan rendah diri.
4. Menggunakan Rasa Bersalah untuk Mengontrol Anak
Pola asuh yang membuat anak merasa bersalah—misalnya dengan kalimat "Ibu sudah capek-capek, kok kamu begini"—bisa melekat di benak anak seumur hidupnya. Beberapa studi menunjukkan bahwa rasa bersalah berkaitan dengan kecemasan, ambisi berlebihan untuk membahagiakan orang lain, dan kesulitan menentukan keinginan diri sendiri.
Anak yang terbiasa dipermainkan perasaannya akan tumbuh menjadi pribadi yang selalu mencari validasi dari orang lain, bukan dari dalam dirinya.
5. Aturan yang Tidak Konsisten
Banyak orang tua mengeluh anak tidak mau mendengarkan. Padahal, sumber masalahnya bukan karena anak memberontak, melainkan karena aturan yang diberikan tidak konsisten. Hari ini boleh, besok dilarang. Situasi seperti ini membuat anak bingung dan tidak aman.
"Aturan yang tidak konsisten menciptakan kebingungan dan rasa tidak aman," ujar Capanna-Hodge. Anak akan lebih mudah belajar dan memahami batasan jika aturan yang diberikan jelas dan diterapkan secara konsisten setiap hari.
6. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Kebiasaan membandingkan sering kali muncul karena orang tua cemas perkembangan anaknya tertinggal. Namun, terlalu sering membandingkan justru merusak kepercayaan diri anak. Anak akan merasa tertekan untuk selalu memberikan yang terbaik hanya demi menyenangkan orang tua, bukan karena keinginannya sendiri.
Alih-alih membandingkan dengan anak lain, fokuslah pada perkembangan anak di masa lalu dan sekarang. Rayakan setiap pencapaian kecilnya tanpa perlu melibatkan standar orang lain.
Kapan Orang Tua Perlu Lebih Waspada?
Jika kebiasaan-kebiasaan di atas sudah terlanjur menjadi pola sehari-hari, bukan berarti terlambat untuk berubah. Mulailah dengan mengganti satu kebiasaan secara bertahap. Perhatikan perubahan perilaku anak, apakah ia menjadi lebih mudah marah, menarik diri, atau kesulitan tidur.
Jika kekhawatiran berlanjut, konsultasikan dengan psikolog anak untuk mendapatkan panduan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan si kecil. Yang terpenting, ibu tidak sendirian. Setiap orang tua pasti pernah melakukan kesalahan, dan yang terbaik adalah terus belajar dan memperbaiki diri demi tumbuh kembang anak yang lebih sehat.