SULAWESI BARAT — Jakarta — Timnas Indonesia saat ini bercokol di peringkat ke-118 dunia dengan koleksi 1.157,05 poin berdasarkan ranking FIFA per 8 Agustus 2026. Status FIFA ASEAN Cup 2026 yang masuk kalender resmi FIFA memang otomatis membuat setiap laga di turnamen ini berpengaruh pada nilai kompetitif dan peringkat Indonesia.
Namun, pengamat sepak bola nasional, Luciano Leandro, mengingatkan agar skuad Garuda tidak terjebak pada orientasi jangka pendek semata. Menurutnya, turnamen yang mempercayakan Indonesia sebagai tuan rumah Divisi Premier ini adalah panggung yang tepat untuk uji coba kekuatan dan eksperimen strategi.
"Ya, karena turnamen ini masuk kalender resmi FIFA, tentu setiap pertandingan memiliki nilai kompetitif dan dapat memberikan pengaruh terhadap ranking FIFA Indonesia. Jadi, tentu saja poin dan ranking tetap penting," ujar Luciano kepada Bola.com, Minggu (16/8/2026).
"Tetapi, menurut saya, jangan melihat turnamen ini hanya sebagai cara untuk mengejar poin FIFA. Yang lebih penting adalah bagaimana Indonesia menggunakan ajang ini untuk membangun tim yang lebih matang, kompetitif, dan memiliki kedalaman skuad," katanya menegaskan.
Dengan status tuan rumah, Indonesia menyiapkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, dan Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, sebagai venue pertandingan. Kehadiran sejumlah negara kuat Asia Tenggara dipastikan membuat persaingan berlangsung ketat, sekaligus menjadi ujian sesungguhnya bagi para pemain.
Luciano menilai ajang ini adalah kesempatan emas bagi pelatih John Herdman untuk bereksperimen dengan materi pemain yang lebih luas. Memberikan menit bermain kepada talenta muda potensial menjadi langkah strategis yang tak boleh dilewatkan, selama tetap mempertahankan standar kompetisi tinggi.
"Indonesia harus berani memberikan kesempatan kepada pemain-pemain yang memiliki kualitas, termasuk pemain muda yang potensial tetapi tetap dengan standar kompetisi yang tinggi," tuturnya.
FIFA ASEAN Cup 2026 juga menjadi panggung kebangkitan Timnas Indonesia setelah kegagalan di Piala AFF 2026. Dengan dukungan publik di kandang sendiri, skuad Garuda dituntut tampil lebih garang dan menunjukkan progres nyata.
"Kalau kita ingin Indonesia terus berkembang dan memiliki target besar di level Asia bahkan Piala Dunia, setiap pertandingan resmi FIFA harus menjadi bagian dari proses pembangunan sepak bola nasional," pungkas Luciano.
Turnamen ini bukan sekadar laga pemanasan, melainkan batu loncatan bagi regenerasi dan pendalaman skuad yang akan menjadi modal berharga bagi Indonesia dalam menghadapi agenda kompetisi internasional berikutnya.