SULAWESI BARAT — Di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, kebiasaan mengejek nama orang tua atau berkata kasar kerap dianggap candaan. Padahal, bagi sebagian siswa, hal itu memicu rasa tidak nyaman dan pertengkaran.
Dari persoalan itu, sekelompok siswa menciptakan Papan Kompas (Kontrol Mulut Pastikan Sopan), media pembelajaran berbasis permainan edukatif. Terinspirasi papan perkalian di kelas, permainan bertema petualangan ini dirancang mengendalikan ucapan lewat sistem penghargaan dan konsekuensi.
Nur Fazrian, perwakilan siswa, merasakan perubahan suasana kelas. “Suasana kelas menjadi lebih damai dan saling menghargai. Yang paling terasa bukan hanya berkurangnya kata-kata kasar, tetapi juga tumbuhnya sikap saling menghargai antarteman sekelas,” katanya.
Anugrah Mitria Sari, Guru Pendamping SDN Pelambuan 4, menilai proses ini memberi pengalaman baru. “Yang paling membanggakan bukan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi bagaimana siswa berani mengenali persoalan di sekitarnya dan mencari jalan keluarnya sendiri,” ujarnya.
Stigma Ruang BK Hilang Lewat Aplikasi "Perisai Pintar"
Persoalan berbeda ditemukan di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam. Banyak siswa enggan datang ke ruang Bimbingan Konseling (BK) karena takut dicap bermasalah. Mereka justru lebih nyaman curhat di taman atau sudut sekolah.
Kondisi itu mendorong siswa mengembangkan Perisai Pintar, aplikasi untuk menyampaikan cerita atau keluhan secara anonim kepada guru BK. Sebelumnya sekolah punya kotak curhat, tapi belum efektif. Hasil observasi menunjukkan sekitar 60% siswa mendukung aplikasi ini.
Angelika Patresia Gultom, perwakilan siswa, merasa aplikasi ini menjadi wadah yang lebih nyaman. “Senang sih, kan saya juga sama teman-teman kan sama-sama seumuran, jadi ngerti gimana perasaannya kalau curhat itu enggak didengar. Jadi kalau ada Perisai Pintar ini, kami punya tempat untuk berkeluh kesah,” tuturnya.
Mennusuriani Saragih, Guru BK SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, melihat pendekatan CBL melatih kerja sama siswa. “Yang saya lihat dari materi CBL, anak-anak akhirnya bisa bekerja sama, bergotong royong dalam melaksanakan program CBL ini di sekolah,” jelasnya.
Dukungan Trakindo dan Dampak ke 205 Sekolah
Kedua inovasi ini bagian dari Program GENERASI Trakindo 2026 yang mengusung tema Sekolah Ramah Anak. Hingga 2026, program ini menjangkau 30 SDN/SMPN mitra dan 175 sekolah imbas di 18 provinsi.
Trakindo memberikan pendampingan riset, pendanaan, dan pelatihan bagi guru serta siswa. Di Lubuk Pakam, perusahaan juga memberikan pelatihan khusus Sekolah Ramah Anak dan dukungan material riset.
Candy Sihombing, Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama, menegaskan pentingnya memberi ruang bagi siswa. “Ketika siswa diberikan ruang untuk memahami persoalan di sekitarnya dan dipercaya untuk mencari solusi, mereka belajar bahwa suara dan gagasan mereka dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah,” ujarnya.
Kisah dari dua sekolah ini membuktikan sekolah ramah anak bisa dimulai dari langkah sederhana: memberi anak ruang bersuara dan percaya pada gagasannya. Dari sana, lingkungan belajar yang aman dan suportif tumbuh bersama.