SULAWESI BARAT — Kondisi ini menjadi bahan identifikasi kebutuhan pendampingan yang akan difokuskan pada penguatan identitas usaha, pemasaran, hingga pemetaan lokasi. Hasilnya, tingkat kesiapan digitalisasi tiap UMKM berbeda-beda, dipengaruhi faktor kebiasaan dan kapasitas operasional.
“Nggak apa-apa. Soalnya itu kan fasilitas ya. Jadi kita sendiri juga… oke lah. Memang kita harus mengikuti zaman,” ujar Pak Solikin kepada mahasiswa KKN.
Selain sistem pembayaran non-tunai, Pak Solikin juga setuju untuk dibuatkan banner dan logo usaha guna memperkuat identitas bisnisnya di area wisata.
“Mboten, mboten gadhah kula. Kula namung cash mawon, nggih?” ungkap Bu Nanik.
Sementara itu, Keripik Singkong MHI milik Bu Husnul dan Pak Kholis justru menghadapi kendala berbeda. Usaha keluarga yang beroperasi sejak era 1980-an dengan kapasitas produksi satu kuintal per hari ini kesulitan diakses pembeli dan kurir karena lokasi pabrik berada di dalam gang. Menanggapi hal ini, mahasiswa KKN menawarkan pembuatan banner petunjuk arah di mulut gang.
“Sing penting ditandai petunjuk arah panah teng ngajeng gang. Dadi tiyang semerap lek produksine mlebet teng mriki, mboten nyasar teng wingking,” jelas Bu Husnul.
“Purun, monggo… Warunge nika. Pancene wayahe rusak,” ucap Mak Ning.
Adapun Bu Triani, pengusaha olahan kolang-kaling sejak 2011, masih memilih transaksi tunai. Meski demikian, pendampingan difokuskan pada aspek lain yang lebih mendesak bagi keberlangsungan usahanya.
Dari pendataan ini, mahasiswa KKN-T 07 UNIRA Malang akan menindaklanjuti dengan program pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha, baik dari sisi infrastruktur digital maupun penguatan kapasitas produksi.