SULAWESI BARAT — Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan perseroan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada bisnis inti perkeretaapian. Dengan skala perusahaan yang sudah sangat besar, ia menilai aset, teknologi, dan basis pelanggan yang dimiliki harus diubah menjadi mesin pertumbuhan baru.
“Skala KAI sudah sangat besar. Tantangan sekaligus peluang berikutnya adalah meningkatkan kontribusi aset, teknologi, keahlian, dan basis pelanggan sebagai sumber pertumbuhan baru,” kata Bobby dalam keterangan resminya, Kamis (20/8/2026).
Untuk mewujudkan target tersebut, KAI menyiapkan empat mesin pertumbuhan. Keempatnya mencakup optimalisasi aset operasional, pengembangan aset berwujud seperti lahan, pemanfaatan kapabilitas sumber daya manusia, serta adopsi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
KAI tercatat memiliki lahan perkeretaapian seluas 327,8 juta meter persegi. Lahan ini bakal dikembangkan menjadi kawasan properti, kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development (TOD), hingga pusat layanan perawatan kereta atau Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Perseroan juga membuka peluang bisnis manufaktur dan jasa konsultasi berbasis keahlian perkeretaapian.
“Pertumbuhan ke depan harus lebih produktif. KAI perlu semakin kuat dalam operasi, semakin optimal dalam mengelola aset, dan semakin cepat memanfaatkan teknologi,” ujar Bobby.
Transformasi ini tidak dimulai dari nol. KAI Group mencatatkan 503,5 juta pelanggan sepanjang 2025, tumbuh 8,52 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 464 juta pelanggan. Dari jumlah itu, ada sekitar 2,8 juta interaksi pelanggan setiap harinya.
Data interaksi ini menjadi modal utama KAI untuk mengembangkan layanan digital dan bisnis berbasis data. Teknologi AI juga mulai dipakai untuk meningkatkan produktivitas operasional dan mengoptimalkan kapasitas jaringan rel yang ada.
Dengan strategi ini, KAI memproyeksikan volume penumpang bisa mencapai 1,4 miliar orang per tahun pada 2045. Angka itu hampir tiga kali lipat dari basis pelanggan saat ini.
Bobby menegaskan perubahan pola pikir menjadi kunci utama transformasi ini. Perusahaan tidak lagi bisa pasif menunggu permintaan pasar, melainkan harus aktif menciptakan peluang bisnis baru.
“Kita perlu bergerak dari menunggu permintaan menjadi menciptakan peluang. Industri yang maju membangun kesempatan, lalu pertumbuhan akan mengikuti,” kata Bobby.
Pada 2045, KAI menargetkan diri menjadi operator kereta api kelas dunia atau world-class railway operator. Perusahaan ingin memperkuat produktivitas, memperluas sumber pendapatan, dan meningkatkan kontribusi sektor perkeretaapian terhadap konektivitas serta daya saing ekonomi nasional.
Langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah yang mendorong BUMN untuk tidak hanya menjadi penyedia layanan publik, tetapi juga pemain bisnis yang sehat dan inovatif. Bagi masyarakat, pengembangan aset KAI diharapkan menghadirkan moda transportasi yang lebih efisien serta kawasan hunian dan komersial yang terintegrasi dengan jaringan kereta.