SULAWESI BARAT — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (22/6/2026) pukul 10.45 WIB, IHSG terkoreksi 1,79% ke level 6.066,46. Nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp6,16 triliun dengan volume perdagangan 9,76 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 502 saham ditutup di zona merah, sementara 184 saham menguat dan 273 saham stagnan.
Tekanan jual terbesar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar, terutama kelompok konglomerat seperti Grup Barito dan Sinarmas, serta saham perbankan utama. Aksi ambil untung di awal pekan ini menjadi faktor utama yang memperburuk sentimen pasar.
Tiga Pemicu Utama di Balik Koreksi Hari Ini
Analis Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa pasar sedang mencermati tiga perkembangan signifikan. Pertama, perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Kesepakatan awal untuk mencabut blokade sempat memicu optimisme, namun ketidakjelasan implementasi membuat investor memilih wait and see.
"Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena berdampak langsung pada harga energi dan biaya logistik global," tulis riset Phintraco Sekuritas yang dikutip hari ini.
Kedua, data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini menjadi katalis risiko. Pelaku pasar khawatir data inflasi atau ketenagakerjaan yang lebih panas dari perkiraan bisa memicu sikap hawkish The Fed, yang pada akhirnya memperkuat dolar AS dan menekan arus modal asing ke pasar emerging market seperti Indonesia.
Keputusan MSCI Jadi Penentu Arah Pekan Ini
Faktor ketiga yang paling ditunggu adalah keputusan MSCI terkait status Indonesia di indeks pasar negara berkembang.