SULAWESI BARAT — Perbandingan pajak tahunan antara Toyota Veloz Hybrid dan BYD M6 DM memang layak jadi pertimbangan sebelum memutuskan membeli MPV ramah lingkungan. Keduanya sama-sama menyasar keluarga dengan teknologi elektrifikasi, tapi Veloz mengandalkan hybrid konvensional sementara M6 DM memakai sistem PHEV (Plug-in Hybrid) atau yang disebut BYD sebagai Dual Mode. Harga jual keduanya bersaing ketat, namun dari sisi biaya kepemilikan tahunan, ada jurang yang cukup dalam.
Berdasarkan lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2026, Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) Veloz Hybrid berada di kisaran Rp 228 juta hingga Rp 288 juta. Sebagai pembanding, NJKB tertinggi BYD M6 DM hanya Rp 123 juta. Karena NJKB menjadi dasar perhitungan PKB, wajar jika pajak tahunan Veloz Hybrid jauh lebih mahal.
Simulasi berikut memakai tarif PKB 2 persen sesuai ketentuan DKI Jakarta untuk kendaraan pertama, plus SWDKLLJ Rp 143 ribu. Di luar Jakarta, nominal bisa berbeda karena tarif dan opsen tiap provinsi tidak sama.
Untuk tipe paling bawah, Veloz Hybrid 1.5 V, NJKB-nya tercatat Rp 239,4 juta. Dari sana, PKB yang harus dibayar adalah Rp 4,788 juta, sehingga total pajak tahunan mencapai Rp 4,931 juta.
Naik satu level ke tipe 1.5 Q Hybrid, NJKB-nya Rp 247,8 juta. Pajak tahunannya menjadi Rp 5,099 juta setelah ditambah SWDKLLJ.
Varian 1.5 Q Hybrid Modellista punya NJKB Rp 278,25 juta. Total biaya pajak tahunannya mencapai Rp 5,708 juta. Sementara itu, tipe tertinggi 1.5 Q Hybrid TSS Modellista mencatatkan NJKB Rp 302,4 juta. PKB yang muncul adalah Rp 6,048 juta, dan dengan SWDKLLJ totalnya menjadi Rp 6,191 juta.
Seluruh delapan varian BYD M6 DM yang tercatat di Permendagri punya NJKB di bawah Rp 130 juta. Varian termahal, MEH-FWD-10A6, hanya memiliki NJKB Rp 129,15 juta. Pajak tahunannya cuma Rp 2,726 juta.
Berikut rincian pajak tahunan untuk tiap varian BYD M6 DM:
Selisih ini murni karena NJKB. Toyota menetapkan NJKB Veloz Hybrid jauh di atas BYD M6 DM, hampir dua kali lipat. Besaran NJKB sendiri ditentukan pabrikan dan menjadi dasar pemerintah daerah memungut PKB. Semakin tinggi NJKB, semakin besar pula pajak yang harus dibayar pemilik kendaraan.
Dalam setahun, selisih pajak antara Veloz Hybrid tipe terbawah dan BYD M6 DM termurah mencapai Rp 2,6 juta. Kalau dibandingkan varian tertinggi keduanya, bedanya melebar sampai Rp 3,46 juta per tahun.
Pajak tahunan yang lebih murah memang menguntungkan, tapi jangan jadikan satu-satunya alasan. BYD M6 DM sebagai PHEV menawarkan mode listrik murni untuk jarak pendek, sementara Veloz Hybrid tidak perlu dicolok ke charger eksternal—cukup isi bensin seperti mobil biasa. Cara pakai, ketersediaan fasilitas charging di rumah, dan kebutuhan harian tetap jadi pertimbangan utama.
Untuk pembeli yang tinggal di Jakarta dan mencari MPV elektrifikasi dengan biaya tahunan paling rendah, BYD M6 DM jelas unggul. Tapi kalau infrastruktur charging di rumah jadi masalah dan Anda ingin teknologi hybrid tanpa ribet, Veloz Hybrid tetap relevan—dengan konsekuensi pajak tahunan yang lebih besar.