MAMUJU — Hamparan terumbu karang di perairan Kepulauan Balabalakang, Kabupaten Mamuju, ditemukan dalam kondisi hancur. Tim penyelam dari Mamuju Ocean Conservation yang melakukan penyelaman pada Juli 2024 lalu mendapati karang patah dan mati akibat praktik pengeboman ikan yang sudah berlangsung lama.
Padahal, kawasan ini baru saja ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 47 Tahun 2022. Di atas kertas, ia dilindungi. Di dalam laut, ia terluka.
Nelayan dari Luar Daerah Jadi Pelaku Utama Pengeboman
Hasil penelitian tim dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin pada Mei 2022 merekam situasi yang gamblang. Saat tim sedang melakukan penyelaman untuk replantasi terumbu karang di Pulau Salissingan, pengeboman terjadi berturut-turut.
Bukan di masa lalu, tapi saat ini. Bukan sekali, tapi berulang.
Penelitian itu mengidentifikasi tiga kelompok pelaku dengan metode berbeda. Nelayan dari Kalimantan (Balikpapan) dan Sulawesi Selatan (Pangkep/Makassar) melakukan pengeboman ikan. Nelayan lokal Pulau Balabalakang menggunakan potassium cyanide untuk menangkap ikan kerapu. Sementara trawl ilegal dioperasikan oleh nelayan dari Jawa Timur (Madura) hampir 24 jam, menangkapi segala jenis ikan termasuk benih.
Apa Dampak Kerusakan Ini bagi Nelayan Lokal?
Sebagian nelayan lokal dari Dusun Ilir Salissingan diketahui ikut membantu praktik destruktif ini. Ironisnya, mereka justru menjadi pihak yang paling dirugikan dalam jangka panjang karena kehilangan sumber daya ikan akibat rusaknya habitat.
Sulawesi Barat memiliki luas laut lebih besar dari daratan: 19.848,56 km² berbanding 16.916,02 km². Garis pantainya membentang 663,02 km dengan 69 pulau, 41 di antaranya pulau kecil. Perairan ini juga berada di jalur ALKI II, alur pelayaran internasional yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Hindia.
Ancaman Baru: Tambang LTJ Bernilai Rp 124 Triliun
Kekayaan laut Sulbar kini dihimpit dari dua sisi. Dari laut oleh ancaman ekologis yang sudah berlangsung lama, dan dari darat oleh ambisi pertambangan yang baru akan bergerak serius.
Di bawah bukit-bukit yang mengelilingi garis pantai Mamuju, tersimpan cadangan Logam Tanah Jarang (LTJ). Pemerintah pusat menyebutnya sebagai "harta karun nasional" dengan target hilirisasi Rp 124,61 triliun pada 2030. BUMN bentukan Danantara sudah duduk di meja rapat membahas penambangan di sana, nyaris tanpa diskusi soal risiko bagi laut.
Mengapa Kasus Ini Terjadi di Kawasan Konservasi?
Kepulauan Balabalakang adalah salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di Sulbar. Sementara di Pulau Karampuang yang hanya berjarak beberapa mil dari Mamuju, sekitar 70-80 persen terumbu karang masih dalam kondisi baik menurut penelitian Hardiana pada 2024.
Artinya, masih ada yang bisa diselamatkan. Tapi tanpa penegakan hukum yang serius terhadap praktik pengeboman dan tanpa kajian lingkungan ketat sebelum tambang LTJ beroperasi, ekosistem laut Sulbar akan terus berada di simpang jalan.