POLEWALI MANDAR — Puluhan pejabat dan tenaga kesehatan dari berbagai instansi di Sulawesi Barat duduk bersama dalam satu ruangan selama dua hari. Mereka tidak sedang rapat biasa, melainkan menjalani skenario darurat: bagaimana jika kasus campak tiba-tiba melonjak dan mengancam jadi kejadian luar biasa?
Table Top Exercise (TTX) Respons KLB Campak yang digelar DKPPKB Sulbar pada 9–10 Juni 2026 di Polewali Mandar menjadi uji coba nyata sistem penanganan wabah. Bukan sekadar teori, simulasi ini memaksa setiap pihak menjalankan perannya masing-masing—dari surveilans hingga komunikasi risiko ke masyarakat.
Menguji Kesiapan Sebelum Wabah Benar-Benar Terjadi
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan formalitas. "Melalui kegiatan ini, kita dapat mengukur kesiapan sistem dan sumber daya yang dimiliki daerah dalam menghadapi ancaman wabah campak," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan imunisasi rutin dan surveilans kesehatan tetap menjadi strategi utama. Langkah ini dinilai paling efektif untuk mencegah penularan campak, terutama pada kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak.
Skenario Darurat yang Disimulasikan
Dalam TTX tersebut, peserta dihadapkan pada skenario peningkatan kasus campak yang memicu respons darurat. Setiap instansi—dari dinas kesehatan, puskesmas, hingga pemerintah kecamatan—harus menunjukkan bagaimana mereka akan bertindak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Kesehatan Lingkungan (P2KL) DKPPKB Sulbar, dr. Muhammad Ihwan, menjelaskan bahwa simulasi ini mengidentifikasi berbagai tantangan yang mungkin muncul di lapangan. "TTX memberikan gambaran nyata tentang bagaimana mekanisme respons harus dijalankan ketika terjadi peningkatan kasus," katanya.
Empat Pilar Utama yang Diperkuat
Melalui Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi, DKPPKB Sulbar memberikan masukan teknis di empat area kritis:
- Surveilans berbasis kasus — memperkuat sistem pelaporan dan pelacakan pasien campak
- Kualitas data imunisasi — memastikan data cakupan vaksinasi akurat dan real-time
- Investigasi epidemiologi — prosedur penyelidikan sumber penularan
- Komunikasi risiko — strategi menyampaikan informasi ke masyarakat tanpa menimbulkan kepanikan
Campak: Ancaman Lama yang Kembali Mengintai
Campak bukan penyakit asing bagi Indonesia. Meski vaksin sudah tersedia, cakupan imunisasi yang tidak merata masih menjadi celah. Di Sulawesi Barat, daerah terpencil dengan akses terbatas ke fasilitas kesehatan menjadi perhatian khusus.
Kegiatan ini sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka yang menempatkan ketahanan kesehatan daerah sebagai prioritas pembangunan. Polewali Mandar dipilih sebagai lokasi simulasi karena menjadi salah satu kabupaten dengan risiko penularan yang perlu diwaspadai.
Dengan simulasi ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama. Respons terhadap KLB campak nantinya bisa berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi—bukan sekadar reaksi saat kasus sudah meluas.