SULAWESI BARAT — Nilai transaksi bruto ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD99 miliar pada 2025, tumbuh 14 persen dari tahun sebelumnya. Capaian itu menempatkan Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, menurut laporan e-Conomy SEA 2025.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid menyampaikan angka tersebut saat membuka Bali Tech Week 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Denpasar, Bali, Senin (19/10/2026). Menurut Meutya, pertumbuhan nilai transaksi digital harus diikuti kemampuan pelaku usaha menciptakan nilai tambah dan memperluas pasar.
"Laporan e-Conomy SEA 2025 memperkirakan nilai transaksi bruto atau GMV ekonomi digital Indonesia tumbuh 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Meutya dalam pembukaan acara tersebut.
QRIS Jadi Penanda Pertumbuhan di Level Masyarakat
Meutya menilai pertumbuhan ekonomi digital makin terlihat dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. Penggunaan QRIS sebagai sarana pembayaran digital disebutnya sebagai salah satu penandanya.
Meski begitu, perluasan teknologi dinilai belum otomatis berdampak besar pada produktivitas usaha dan daya saing pelaku ekonomi nasional. Kemkomdigi lantas mendorong kolaborasi antara talenta digital, startup, pelaku industri, investor, dan pasar lewat sejumlah program pengembangan inovasi.
Garuda Spark Jangkau 15.700 Talenta dan 80 Startup
Salah satu program yang dijalankan adalah ekosistem Garuda Spark. Program itu telah menjalankan 178 kegiatan dengan jangkauan lebih dari 15.700 talenta digital.
Garuda Spark juga membina 80 perusahaan rintisan dan melibatkan 80 mitra dari berbagai unsur ekosistem teknologi. Investasi langsung yang tercatat mencapai lebih dari Rp429,5 miliar sebagai bagian dari penguatan pendanaan perusahaan teknologi nasional.
"Jejaring ini perlu terus menghasilkan kesempatan bagi inovator Indonesia untuk mengembangkan produk dan menjangkau pasar," kata Meutya.
Industri Gim Nasional Punya 198 Studio Aktif
Sektor gim menjadi salah satu yang disebut memiliki peluang pertumbuhan. Data Asosiasi Game Indonesia pada 2025 mencatat 198 studio gim aktif sebagai bagian dari ekosistem industri kreatif digital.
Pengembangan sektor itu, menurut Meutya, membutuhkan dukungan talenta, akses pembiayaan, dan kemitraan industri. Tujuannya agar lebih banyak karya pengembang Indonesia mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Penguatan industri gim juga menjadi bagian dari upaya mendorong Indonesia menghasilkan produk dan layanan digital, bukan sekadar menjadi pasar bagi teknologi yang dikembangkan negara lain.
Uji Coba Digitalisasi Perlindungan Sosial di 153 Kabupaten dan Kota
Di luar sektor industri, Kemkomdigi memperluas pemanfaatan infrastruktur digital untuk pelayanan publik. Program Digitalisasi Perlindungan Sosial sudah diuji coba di 153 kabupaten dan kota.
Program itu didukung Sistem Penghubung Layanan Pemerintah (SPLP) yang memfasilitasi pertukaran data antarsistem pemerintahan. Sepanjang 4 Juni hingga 11 September 2026, SPLP memproses sekitar 17,7 juta transaksi pertukaran data.
Hasil pemadanan data mencatat 4,12 juta kartu keluarga berhasil dipadankan sebagai bagian dari penguatan integrasi data pelayanan publik. Kajian uji coba di Kabupaten Banyuwangi pada 2025 menunjukkan potensi pengurangan biaya proses hingga 90 persen pada pelaksanaan yang diteliti.
DEFA ASEAN Jadi Jalur Perluasan Pasar
Meutya juga menyoroti penguatan kerja sama ekonomi digital regional untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing Indonesia. Potensi ekonomi digital nasional dinilai masih dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan negara-negara ASEAN, termasuk dalam kerangka Digital Economy Framework Agreement (DEFA).
Perjanjian kerangka kerja ekonomi digital ASEAN itu dipandang sebagai peluang memperkuat integrasi pasar digital kawasan. Bagi pelaku usaha dalam negeri, kesepakatan tersebut membuka akses yang lebih luas ke pasar regional sekaligus menuntut kesiapan bersaing dengan pemain lintas negara.