IESR Nilai Pengurangan BBM Subsidi untuk Elektrifikasi Beri Manfaat Berlipat, Ini Syaratnya

Penulis: Puguh Triyono  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:06:01 WIB
IESR menilai pengurangan subsidi BBM secara bertahap perlu diiringi akselerasi elektrifikasi transportasi dan insentif motor listrik dalam negeri.

SULAWESI BARAT — Jakarta — Institute for Essential Services Reform (IESR) menanggapi positif komitmen pemerintah yang ingin mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara bertahap. Langkah ini dinilai akan berjalan efektif jika diiringi dengan akselerasi elektrifikasi transportasi dan insentif bagi motor listrik produksi dalam negeri.

"IESR menyambut baik komitmen pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM secara bertahap melalui percepatan elektrifikasi transportasi dan pemberian insentif bagi motor listrik produksi dalam negeri," ujar Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Elektrifikasi

Menurut Fabby, kebijakan ini tidak hanya berdampak pada penghematan anggaran negara. Ada tiga manfaat utama yang bisa dipetik secara bersamaan.

Pertama, pengurangan impor energi yang selama ini menjadi beban neraca perdagangan. Kedua, peningkatan kualitas udara di perkotaan yang selama ini didominasi polusi dari kendaraan bermotor. Ketiga, pengembangan industri kendaraan listrik nasional beserta rantai pasoknya.

Syarat agar Transisi Energi Berkeadilan

IESR menekankan bahwa transisi dari BBM ke listrik tidak boleh berjalan setengah hati. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah agar kebijakan ini tepat sasaran.

Perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi prioritas utama. Selain itu, kualitas transportasi publik harus ditingkatkan sebagai alternatif bagi masyarakat yang belum mampu membeli kendaraan listrik.

Pembangunan infrastruktur pengisian daya yang merata juga menjadi syarat mutlak. Tanpa itu, adopsi kendaraan listrik akan timpang antara Jawa dan luar Jawa.

"Tanpa dekarbonisasi sektor kelistrikan, manfaat penuh elektrifikasi transportasi tidak akan optimal," tegas Fabby.

Insentif Satu Juta Motor Listrik

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan akan mempercepat proses elektrifikasi mobilitas rakyat dalam Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya.

"Kita akan percepat proses elektrifikasi mobilitas rakyat. Subsidi BBM harus kita kurangi secara signifikan. Untuk itu, Pemerintah yang saya pimpin kemarin telah meluncurkan ekosistem motor listrik nasional," kata Presiden.

Pemerintah juga akan memberikan insentif untuk satu juta motor listrik yang diproduksi di dalam negeri oleh pengusaha Indonesia. Kebijakan ini disebut punya tiga tujuan sekaligus.

"Menurunkan biaya kendaraan bagi rakyat, mengurangi konsumsi bahan bakar impor, dan membesarkan industri motor listrik nasional beserta rantai pasok baterai, komponen, perangkat lunak, serta layanan purnajualnya," jelas Presiden.

Tantangan Terbesar Bukan Lagi Visi

IESR menilai pidato Presiden memuat sejumlah terobosan penting, terutama di bidang energi surya, elektrifikasi transportasi, efisiensi belanja publik, dan pembangunan infrastruktur dasar. Namun, tantangan terbesar kini bergeser dari sekadar visi ke eksekusi di lapangan.

Konsistensi kebijakan, tata kelola yang transparan, serta keberanian melakukan reformasi struktural menjadi kunci agar target-target tersebut dapat tercapai. Kehadiran motor listrik buatan Indonesia di jalan raya disebut sebagai tiga kemenangan sekaligus: penghematan bagi keluarga, pengurangan impor energi, dan lapangan pekerjaan bagi anak bangsa.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: otomotif.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top