MAMUJU — Hidangan kaddo minyak dan telur rebus menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Mamuju. Kedua sajian itu disiapkan panitia dan langsung diserbu warga begitu rangkaian acara di Masjid Al-Asri, BTN Simboro, selesai.
Ketua Pembangunan Masjid Al-Asri, Abdul Rahim, menyebut kaddo minyak bukan sekadar hidangan pelengkap. Menurut dia, makanan itu punya makna mendalam bagi masyarakat Mandar.
"Kaddo minyak merupakan nasi ketan yang ditaburi bawang dan menjadi hidangan yang wajib disajikan pada acara Maulid. Kaddo minyak ini melambangkan persatuan," ujarnya.
Beras Ketan, Santan, dan Minyak Kelapa Jadi Bahan Utama
Kaddo minyak diolah dari beras ketan yang dimasak menggunakan santan dan minyak kelapa. Proses memasaknya memakan waktu karena ketan harus dimasak hingga matang merata sebelum dicampur bahan lain.
Sajian itu kemudian dilengkapi taburan bawang goreng, telur goreng, serta suwiran ayam goreng. Kombinasi bahan-bahan tersebut memberi cita rasa gurih yang khas dan membedakannya dari hidangan berbahan ketan lain.
Telur rebus disajikan terpisah dan menjadi incaran warga, terutama anak-anak. Kedua hidangan itu diletakkan dalam wadah besar yang telah disiapkan panitia sejak sebelum acara dimulai.
Mengapa Kaddo Minyak dan Telur Rebus Dipercaya Membawa Berkah
Penceramah sekaligus Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat, Hajrul Malik, menjelaskan tradisi berebut kaddo minyak dan telur rebus memiliki makna berkah bagi masyarakat yang mendapatkannya. Hidangan tersebut telah didoakan oleh pemangku agama dalam rangkaian acara Maulid.
Keyakinan itu membuat warga tidak sekadar ingin menikmati hidangannya. Mereka berebut karena percaya ada nilai spiritual yang melekat pada makanan yang telah melewati proses doa bersama.
Antusiasme terlihat sejak acara memasuki bagian akhir. Anak-anak hingga ibu-ibu tampak bersemangat mendekati area penyajian begitu panitia memberi tanda hidangan siap dibagikan.
Tradisi yang Terus Dipertahankan di Sulawesi Barat
Penyajian kaddo minyak dan telur rebus tidak hanya menjadi daya tarik dalam perayaan Maulid Nabi. Tradisi ini mencerminkan nilai religius, kebersamaan, dan kearifan lokal masyarakat Mandar yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Warga Simboro dan sekitarnya terus mempertahankan kebiasaan ini sebagai bagian dari warisan budaya. Selain mempererat silaturahmi antarwarga, tradisi tersebut menjadi penanda identitas masyarakat Sulawesi Barat dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pelaksanaan Maulid di Masjid Al-Asri tahun ini melibatkan panitia dari kalangan warga setempat. Mereka menyiapkan hidangan secara bergotong royong sebelum acara dimulai.