SULAWESI BARAT — PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mematok harga emas batangan Rp 2.574.000 per gram pada perdagangan Rabu (14/10/2026), tidak berubah dibandingkan posisi sehari sebelumnya. Stagnasi harga jual itu berbarengan dengan harga buyback yang juga bertahan di Rp 2.383.000 per gram. Pergerakan emas Antam masih menunggu arah data inflasi Amerika Serikat dan sinyal suku bunga The Fed.
Jakarta. Harga jual emas logam mulia Antam untuk ukuran 1 gram tercatat sama persis dengan perdagangan Selasa, yakni Rp 2.574.000 per gram, mengutip laman resmi logammulia.com. Buyback atau harga beli kembali yang ditetapkan Antam juga tidak bergerak, tetap Rp 2.383.000 per gram.
Buyback adalah nominal yang diterima pemilik emas saat menjual kembali batangannya ke Antam. Sementara harga yang dipublikasikan pada awal perdagangan menjadi patokan jual Antam kepada konsumen. Selisih keduanya menentukan margin yang harus diperhitungkan pembeli ketika hendak keluar dari investasi ini.
Harga emas Antam bergerak fluktuatif dan bisa berubah kapan saja, mengikuti dinamika harga emas dunia dan kondisi pasar harian. Pergerakan itu membuat patokan pagi tidak selalu bertahan hingga penutupan.
Rincian Harga per Ukuran
Untuk ukuran terkecil 0,5 gram, Antam mematok harga Rp 1.337.000. Emas 2 gram dibanderol Rp 5.098.000, sedangkan ukuran 3 gram Rp 7.629.000 dan 5 gram Rp 12.685.000.
Pada ukuran menengah, emas 10 gram dijual Rp 25.290.000, 25 gram Rp 63.060.000, dan 50 gram Rp 125.955.000. Adapun ukuran besar: 100 gram Rp 251.760.000, 250 gram Rp 629.090.000, 500 gram Rp 1.257.900.000, serta 1.000 gram Rp 2.514.600.000.
Rekor tertinggi sepanjang sejarah harga emas Antam masih dipegang posisi Kamis (29/1/2026) di level Rp 3.168.000 per gram. Saat itu buyback sempat menembus Rp 2.989.000 per gram.
Menunggu Data Inflasi AS
Di pasar global, harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.154,99 per ons pada Selasa (13/10/2026) pukul 13.36 EDT, mengutip CNBC. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga melemah 0,35 menjadi US$ 4.719 per ons.
Koreksi terjadi karena investor menahan posisi menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat dan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh pada akhir pekan. Pelaku pasar ingin mengukur arah kebijakan moneter ke depan sebelum mengambil posisi lebih besar.
"Ada data inflasi yang akan dirilis akhir pekan ini. Jadi, pasar cenderung menunggu untuk melihat bagaimana hasilnya nanti," kata Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn.
Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato terakhirnya pada Kamis sebelum pertemuan kebijakan suku bunga. Investor juga menantikan data Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Rabu serta Indeks Harga Produsen pada Kamis.
Taruhan Suku Bunga The Fed
Gubernur The Fed Christopher Waller menyebut kenaikan imbal hasil obligasi AS belakangan ini lebih mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, bukan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Menurutnya, tekanan inflasi sejauh ini tetap terkendali dengan baik.
Pedagang saat ini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini hanya 19%, tetapi memperhitungkan peluang 88% untuk kenaikan pada Desember, menurut perangkat FedWatch milik CME. Emas kehilangan daya tarik di lingkungan suku bunga tinggi karena aset ini tidak menghasilkan bunga.
Dana Moneter Internasional (IMF) menyoroti risiko dari tingginya tingkat utang publik dan kenaikan imbal hasil obligasi, yang bisa terdorong lebih tinggi oleh tekanan inflasi akibat perang. Nilai tukar dolar AS dan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun dari puncaknya, namun masih bertahan di level tinggi.
"Kenaikan suku bunga semakin menjadi pedang bermata dua bagi emas. Meskipun suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas, kebijakan ini juga memperberat beban fiskal banyak pemerintah dan dengan demikian memperparah kekhawatiran mengenai keberlanjutan utang," ungkap para analis Commerzbank dalam sebuah catatan.
Bagi investor ritel, stagnasi harga Antam hari itu membuka ruang untuk mencermati arah data makro AS sebelum menentukan waktu beli. Selisih antara harga jual dan buyback tetap menjadi pertimbangan utama, terutama bagi yang berencana menjual dalam jangka pendek.