MAMUJU — Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat Muh. Faizal Thamrin membuka langsung kegiatan pelatihan tersebut. Peserta yang hadir seluruhnya berasal dari Kabupaten Pasangkayu, sesuai laporan Dinas Perkebunan setempat kepada panitia penyelenggara.
Pelatihan dibagi ke dalam dua materi utama: pembuatan aplikasi pupuk organik dan teknik pemetaan lokasi perkebunan kelapa sawit. Keduanya dirancang sebagai langkah strategis menuju tata kelola perkebunan yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan.
Mengapa Petani Sawit Pasangkayu Jadi Sasaran Pelatihan
Faizal menyebut teknologi informasi dan pemetaan digital sudah menjadi kebutuhan mutlak di sektor perkebunan. Lewat aplikasi pupuk organik, petani diarahkan memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar lingkungan mereka.
Cara itu disebut dapat menekan biaya produksi sekaligus menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan. Pasangkayu dipilih karena menjadi basis petani kelapa sawit yang dinilai perlu penguatan kapasitas tenaga lapangan.
"Jadi tujuan dari dilaksanakannua kegiatan pelatihan ini kepada petani kelapa sawit kita yang ada di Kabupaten Pasangkayu khususnya terbaik pembuatan aplikasi Pupuk Organik dan Pemetaan Perkebunan Kelapa Sawit. Kemudian untuk peserta yang hadir yang dilaporkan oleh kepada Dinas perkebunan kabupaten Pasangkayu yaitu sebanyak 87 peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan ini," ucap Faizal saat membuka kegiatan di Matos Mamuju.
Pemetaan SIG untuk Data Lahan hingga Sertifikasi ISPO
Agenda kedua menyoroti pemetaan lokasi berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS) dan teknologi geospasial. Pemetaan akurat dinilai krusial untuk pendataan luas lahan, legalitas perkebunan, pemantauan produktivitas, hingga pemenuhan standar sertifikasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil).
Menurut Faizal, data yang valid dan terpetakan rapi akan memudahkan perencanaan pembangunan perkebunan ke depan. Pemetaan juga menjadi instrumen perlindungan hak-hak petani ketika berhadapan dengan persoalan legalitas lahan.
"Melalui pelatihan pemetaan ini, kita ingin memastikan seluruh data perkebunan kelapa sawit di Sulawesi Barat tercatat secara valid, terpetakan dengan akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini penting untuk perencanaan pembangunan perkebunan ke depan serta perlindungan hak-hak petani," tambahnya.
Harapan agar Ilmu Ditularkan ke Kelompok Tani Lain
Disbun Sulbar menargetkan pelatihan ini melahirkan sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap teknologi. Orientasi akhirnya adalah perkebunan Sulawesi Barat yang mandiri, maju, dan berkelanjutan.
Faizal meminta peserta tidak berhenti pada tataran teori. Ilmu dari pelatihan diharapkan diterapkan di kebun masing-masing dan dibagikan ke kelompok tani lain di sekitar mereka.
"Kita berharap dengan pelatihan ini mereka bisa Mengimplementasikan di kebunnya masing-masing dan para kelompok tani yang lainnya," tutup Faizal Thamrin.