Pencarian

Program Motor Listrik Nasional Dicanangkan di Cikarang, Publik Salah Tangkap Arah karena Skuter ALVA

Senin, 17 Agustus 2026 • 02:44:01 WIB
Program Motor Listrik Nasional Dicanangkan di Cikarang, Publik Salah Tangkap Arah karena Skuter ALVA
Kepala negara menandatangani plakat komitmen produksi 20.000 unit skuter listrik dalam acara pencanangan Program Motor Listrik Nasional di Cikarang.

SULAWESI BARAT — Kegaduhan bermula dari janji politik soal motor listrik murah untuk petani yang digaungkan di Malang beberapa pekan sebelum acara. Frasa "dalam beberapa minggu lagi" membuat publik, termasuk komunitas penggemar kendaraan listrik, berekspektasi tinggi. Namun yang terjadi di Cikarang adalah seremoni penandatanganan plakat komitmen produksi 20.000 unit milik PT Ilectra Motor Group (ALVA), bukan peluncuran kendaraan niaga untuk sektor agraris.

Definisi MOLINAS yang Jauh dari Ekspektasi Publik

Dalam siaran pers resmi, pemerintah sebenarnya sudah menegaskan bahwa MOLINAS adalah program pembentukan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) nasional, bukan merek dagang. PT Len Industri diposisikan sebagai lead integrator untuk penugasan BUMN, sementara produsen swasta diajak berkolaborasi memenuhi rantai pasok lokal.

Masalahnya, catatan teknis ini kalah telak oleh teater visual di atas panggung. Kamera media menangkap kepala negara berpidato soal efisiensi energi, lalu menandatangani plakat di hadapan jajaran skuter listrik bergaya urban. Garis antara visi negara, penugasan BUMN, dan pencapaian bisnis swasta pun melebur.

Jurang Teknis antara Skuter Komuter dan Motor Petani

Para penggiat EV menilai lompatan kesimpulan ini berbahaya. Skuter listrik yang diproduksi di Cikarang dirancang untuk aspal mulus, mengusung estetika gaya hidup, dan memiliki ground clearance rendah. Kebutuhan petani justru berada di kutub berlawanan: torsi instan besar di putaran bawah untuk medan lumpur, sasis kokoh untuk muatan panen, serta ketahanan komponen terhadap debu dan genangan air.

Memaksakan narasi "motor petani" menempel pada skuter perkotaan hanya akan melahirkan kekecewaan konsumen di desa. Produk yang dipaksa bekerja di luar fitrah desainnya pasti cepat mengalami penurunan performa, dan yang paling dirugikan adalah pengguna akhir yang membeli berdasarkan janji seremonial.

Instrumen Pembiayaan yang Masih Menggantung

Kekecewaan publik kian pekat ketika janji soal instrumen pembiayaan yang digaungkan di atas panggung tak kunjung jelas. Retorika pejabat sempat menyinggung triumvirat kemudahan pembiayaan, namun implementasi teknisnya masih kabur. Padahal, akses kredit murah adalah kunci utama adopsi kendaraan listrik di segmen petani yang selama ini terbebani biaya operasional BBM.

Tanpa kejelasan skema subsidi atau kredit berbunga rendah, program MOLINAS hanya akan dinikmati segmen perkotaan yang memang sudah menjadi target pasar alami skuter listrik. Sementara itu, petani di pelosok yang menjadi alasan pencanangan program ini tetap menunggu di tengah ketidakpastian.

Pelajaran Komunikasi untuk Pemerintah dan Industri

Perhelatan Cikarang menjadi studi kasus bagaimana acara seremonial bisa membajak narasi kebijakan publik. Alih-alih memperkuat pemahaman soal ekosistem kendaraan listrik, publik justru disuguhkan tontonan yang membingungkan. Media yang berpacu dengan waktu otomatis menarik garis lurus antara pidato presiden, MOLINAS, dan skuter ALVA tanpa membaca catatan halus dalam siaran pers.

Ke depan, pemerintah dan ATPM perlu memisahkan tegas antara acara penandatanganan komitmen bisnis dengan pencanangan program nasional. Jika tidak, distorsi semacam ini akan terus berulang dan menggerus kepercayaan publik terhadap komitmen elektrifikasi nasional. Bagi konsumen, penting untuk membaca spesifikasi teknis dan memahami bahwa MOLINAS adalah ekosistem, bukan satu produk tunggal yang bisa memenuhi semua kebutuhan berkendara sekaligus.

Follow halosulbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kompasiana.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks