SULAWESI BARAT — FBI merancang kota tiruan seluas dua kali lapangan basket ini sebagai laboratorium investigasi siber yang aman. Tidak seperti pelatihan konvensional di ruang kelas, para penyidik bisa langsung mempraktikkan teknik forensik digital di lingkungan yang persis meniru infrastruktur dunia nyata.
Isi Kota dan Fasilitas Latihan
Replika kota ini memiliki rumah lengkap, hotel, SPBU, minimarket, gedung pengadilan, rumah sakit, dan perusahaan listrik. Semua bangunan dilengkapi lampu lalu lintas dan perangkat yang berfungsi seperti di komunitas asli. Setiap sudut kota sudah dipasangi perangkat dan sistem yang bisa diserang secara simulasi tanpa risiko bocor ke dunia nyata.
Fasilitas ini juga mencakup pusat data dengan lebih dari 200 server fisik, sebagian menjalankan sistem operasi Windows dan sebagian Linux. Lingkungan server ini sengaja dibuat tidak nyaman. "Dingin, sempit, bising, gelap, dan menyiksa," kata Dave Beachboard, manajer program Kinetic Cyber Range, dalam pernyataan resmi FBI.
Mengapa FBI Perlu Kota Mini untuk Latihan Siber?
Laporan Kejahatan Internet FBI 2025 mencatat lebih dari satu juta pengaduan dengan total kerugian USD 20,9 miliar. Angka ini melonjak 26 persen dibanding tahun sebelumnya. Ransomware menjadi ancaman nomor satu bagi infrastruktur kritis AS.
Dengan replika kota, FBI bisa mensimulasikan tekanan nyata yang dihadapi penyidik saat menangani insiden. Misalnya, saat sistem rumah sakit mati total akibat ransomware, penyidik harus mengambil keputusan cepat yang bisa berdampak pada keselamatan pasien.
Pelatihan Forensik Digital dan Kontroversi Alat Retas
Sejak dibuka, Kinetic Cyber Range telah melatih lebih dari 1.400 siswa, termasuk personel FBI dan mitra dari lembaga federal serta lokal lainnya. Salah satu materi utama adalah forensik digital, yaitu teknik membobol sistem keamanan perangkat modern untuk mengambil data bukti kejahatan.
Metode ini kontroversial. Alat-alat forensik bekerja dengan mengeksploitasi celah keamanan yang tidak pernah diungkapkan ke pembuat perangkat seperti Apple atau Google. Artinya, FBI sengaja menyimpan kerentanan perangkat massal demi kepentingan penyelidikan, tanpa memberi kesempatan pada vendor untuk menambalnya.
Fasilitas ini menjadi bukti betapa seriusnya pemerintah AS menghadapi gelombang kejahatan siber. Untuk pengguna di Indonesia, kabar ini setidaknya mengingatkan bahwa ancaman ransomware tidak mengenal batas negara dan infrastruktur kritis di mana pun bisa menjadi sasaran.