SULAWESI BARAT — Peresmian fasilitas produksi PT BYD Motor Indonesia di kawasan Subang Smartpolitan pada pekan ini bukan sekadar seremoni. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pabrik tersebut menjadi titik tolak transformasi dari sekadar membangun pasar menuju penguatan manufaktur di dalam negeri.
Agus menyebut Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun mata rantai industri kendaraan listrik secara utuh, mulai dari pengolahan bahan baku, manufaktur baterai dan battery pack, hingga industri daur ulang baterai. Pesan itu disampaikan langsung saat peresmian pabrik di Subang, Jawa Barat.
Pangsa Pasar BYD di Indonesia Capai 43,2 Persen
Data GAIKINDO menunjukkan penjualan BYD sepanjang 2024 hingga semester I 2026 menembus 93.869 unit. Angka itu menempatkan pabrikan asal China tersebut sebagai pemimpin pasar mobil listrik roda empat berbasis baterai di Indonesia.
Secara keseluruhan, penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) pada semester I 2026 mencapai 70.095 unit dengan pangsa pasar 16,06 persen. Adapun penjualan Hybrid Electric Vehicle (HEV) tercatat 40.405 unit dengan pangsa 9,26 persen.
"Besarnya pangsa kendaraan elektrifikasi tersebut mencerminkan semakin kuatnya penerimaan konsumen terhadap teknologi kendaraan rendah emisi," ujar Agus.
TKDN BYD Saat Ini Baru 40,8-47 Persen
Produk BYD yang dipasarkan di Indonesia saat ini memiliki TKDN sekitar 40,8 persen hingga 47 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut terus naik seiring dengan peta jalan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).
Tahapan target TKDN minimum yang ditetapkan pemerintah:
- 40 persen hingga 2026
- 60 persen pada 2027-2029
- 80 persen mulai 2030
Agus berharap kehadiran pabrik di Subang mampu melibatkan lebih banyak industri komponen dan pemasok lokal. Dengan begitu, investasi BYD menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi, bukan sekadar perakitan.
Mengapa Target 80 Persen Krusial bagi Industri Komponen Lokal?
Dorongan peningkatan TKDN ini menyentuh langsung industri komponen dalam negeri. Semakin tinggi persentase komponen lokal yang digunakan, semakin besar pula peluang pemasok domestik masuk ke rantai pasok BYD.
Agus menekankan bahwa peresmian fasilitas produksi ini menjadi pijakan bagi transformasi industri otomotif Indonesia agar semakin maju, berdaya saing, dan berkelanjutan. Tanpa keterlibatan pemasok lokal yang masif, target 80 persen pada 2030 akan sulit tercapai.
Keputusan BYD membangun pabrik di Subang juga menjadi sinyal bagi pemasok komponen global untuk mempertimbangkan investasi di Indonesia, seiring dengan permintaan lokal yang terus bertumbuh.