MAMUJU — Bitcoin kembali berada di area krusial. Harga aset kripto terbesar ini masih kesulitan menembus level US$78.000 seiring pasar mencermati eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memengaruhi harga energi serta ekspektasi kebijakan moneter global.
Kondisi ini membuat pelaku pasar, termasuk investor di daerah, menahan diri. Pergerakan Bitcoin dalam sepekan terakhir cenderung terbatas di kisaran US$77.000-US$78.000, jauh di bawah level tertingginya, karena sentimen risk-off masih mendominasi.
Mengapa Konflik Timur Tengah Menentukan Arah Bitcoin?
Hubungan antara perang di Timur Tengah dan harga Bitcoin mungkin tampak tidak langsung. Namun menurut CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, pasar kripto kini semakin terintegrasi dengan dinamika likuiditas global.
"Bitcoin saat ini berada di persimpangan antara faktor teknikal dan makro. Level resistance memang penting, tetapi katalis yang lebih besar bisa datang dari perubahan persepsi risiko global. Jika tensi geopolitik mereda, tekanan terhadap harga energi ikut berkurang dan sentimen risk-on kembali, Bitcoin berpotensi menjadi salah satu aset yang menerima aliran modal lebih cepat," ujar Yudho di Jakarta.
Ia menambahkan, yang perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah perang dinyatakan berakhir, tetapi efek berantainya. Jika eskalasi mereda, risiko gangguan pasokan energi berkurang, harga minyak terkoreksi, tekanan inflasi lebih terkendali, dan ruang kebijakan bank sentral menjadi lebih fleksibel. Kombinasi faktor tersebut secara historis lebih kondusif bagi aset berisiko, termasuk kripto.
Harga Minyak Jadi Indikator Utama yang Dipantau
Pasar minyak menjadi cermin utama membaca arah konflik. Harga Brent sempat turun ke sekitar US$95,20 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$90,77 per barel pada perdagangan Kamis pagi. Pergerakan ini terjadi setelah sesi volatil akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Harga minyak yang tetap tinggi menjadi perhatian karena berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi itu bisa membatasi kemampuan bank sentral, terutama The Fed, untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Sebaliknya, penurunan harga minyak yang konsisten dapat membantu meredakan kekhawatiran inflasi. Pada Kamis pagi, harga minyak dan imbal hasil obligasi mulai turun setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa gelombang serangan terbaru terhadap Iran kemungkinan tidak berlangsung lama.
Spekulasi Gencatan Senjata: Sinyal yang Belum Final
Laporan media menyebut Trump telah mendiskusikan dengan penasihat senior kemungkinan untuk secara resmi menyatakan konflik dengan Iran berakhir, meskipun belum ada keputusan final. Situasi di lapangan pun belum mereda total. AS dan Iran kembali bertukar serangan pada awal September—AS menyerang fasilitas radar dan kemampuan penempatan ranjau Iran, sementara Iran membalas dengan drone dan rudal ke posisi AS di kawasan Timur Tengah.
Ketidakpastian ini membuat pasar tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru. Bagi aset berisiko seperti saham dan kripto, meredanya konflik dapat mengurangi kebutuhan investor terhadap aset defensif dan membuka ruang kembalinya risk appetite.
Skenario US$100.000 dan Risiko yang Masih Menghadang
Analis teknikal melihat area US$78.000 sebagai level penting yang perlu ditembus Bitcoin untuk membuka ruang penguatan lebih lanjut. Jika momentum positif berlanjut, target psikologis US$100.000 kembali menjadi salah satu skenario yang diperhatikan pasar. Angka itu setara lebih dari Rp 1,6 miliar dengan kurs Rp 16.250-an.
Namun pelaku pasar tetap perlu mewaspadai risiko pelemahan. Penutupan mingguan di bawah area US$70.000 berpotensi meningkatkan tekanan jual signifikan.
"Pasar kripto semakin terhubung dengan dinamika likuiditas global. Karena itu, investor perlu melihat Bitcoin bukan sebagai aset yang bergerak sendiri, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pasar global yang juga merespons minyak, inflasi, yield obligasi, dolar AS, dan ekspektasi suku bunga," jelas Yudho.