SULAWESI BARAT — Proses penyelamatan Sempurna berlangsung kurang dari delapan jam sebelum akhirnya berhenti total. Meski sempat mendapatkan terapi oksigen dan cairan intravena, primata berjenis kelamin jantan itu kehilangan napas pada sore hari setelah saturasi oksigennya tak lagi terdeteksi.
Hasil Nekropsi: Fokus pada Paru-paru, Jantung, dan Ginjal
Verifikasi medis atas organ dalam Sempurna dilakukan pada 1 September 2026. Pemeriksaan patologi menemukan kelainan pada tiga organ utama: paru-paru, jantung, serta ginjal.
Kerusakan jaringan paru-paru dinilai sebagai titik awal kegagalan fungsi tubuh. Laporan BKSDA menyebut perubahan patologis itu berkaitan erat dengan riwayat paparan asap yang dialami Sempurna sebelum ditemukan warga.
Kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru kemudian berdampak sistemik. Jantung dipaksa bekerja lebih keras, ginjal ikut terganggu, hingga akhirnya memicu hipoksia akut atau kekurangan oksigen secara menyeluruh dalam tubuh.
Kronologi Penyelamatan: Dari Lapor Warga hingga Henti Napas
Sempurna pertama kali terlihat oleh warga di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara. Laporan itu diterima petugas pada pukul 07.00 WIB, 30 Agustus, dengan kondisi satwa yang disebut sangat lemah dan sulit bernapas.
Tim dari BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI bergerak ke lokasi dan langsung memberi pertolongan darurat. Sekitar pukul 11.30 WIB, Sempurna dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI untuk penanganan lebih intensif.
Perjalanan penyelamatan memburuk pada pukul 14.00 WIB. Napas Sempurna semakin dangkal dan saturasi oksigen tidak lagi terdeteksi. Tim medis melakukan resusitasi jantung dan paru-paru (CPR) menyusul tanda-tanda henti napas, namun Sempurna dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.
Peran Masyarakat: Kunci Percepatan Penanganan Satwa Darurat
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan duka atas kematian satwa yang merupakan subspesies Pongo pygmaeus itu. Ia menyayangkan Sempurna tidak bisa diselamatkan meskipun tim telah bergerak cepat setelah menerima informasi dari warga.
"Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa," kata Murlan Kamis (3/9).
"Pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya," ujarnya menambahkan.
Murlan menegaskan laporan dari masyarakat punya peran determinan ketika satwa liar ditemukan dalam keadaan sakit, terluka, maupun terdampak kebakaran hutan dan lahan. Informasi awal yang cepat memungkinkan petugas memperpendek waktu respons evakuasi.
"Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas," katanya.