MAMUJU — Kabid Humas Polda Sulawesi Barat Kombes Pol Memo Ardian menyatakan gerakan Subuh Keliling dijalankan berjenjang, dari tingkat Polda sampai Polsek. Personel tidak hanya salat Subuh berjamaah, tetapi juga membuka ruang dialog dengan warga di masjid-masjid.
Masjid dipakai sebagai titik temu, bukan sekadar tempat ibadah. Dari forum itu, polisi mencatat keluhan yang jarang masuk laporan resmi.
Keluhan yang Tidak Pernah Masuk Laporan Resmi
Memo menyebut persoalan warga sering tidak berbentuk tindak pidana. Ada kesalahpahaman yang butuh penengah, kegelisahan yang perlu perhatian, dan masalah sosial yang harus ditangani sebelum membesar.
Isu yang menjadi perhatian berkisar dari keamanan lingkungan, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, peredaran minuman keras, hingga potensi konflik sosial. Semua itu dipetakan per wilayah karena karakteristik persoalan tiap daerah berbeda.
"Kadang ada persoalan yang tidak pernah masuk dalam laporan resmi, tetapi menjadi beban pikiran masyarakat setiap hari. Ada warga yang ingin menyampaikan keluhan, tetapi tidak tahu harus berbicara kepada siapa," kata Memo.
Polda Sulbar: Kepercayaan Dibangun Lewat Tindak Lanjut, Bukan Janji
Polda Sulbar menegaskan keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya kegiatan. Ukuran sebenarnya adalah sejauh mana warga merasa didengar dan melihat respons atas persoalan yang disampaikan.
Aspirasi dari Subuh Keliling diharapkan menjadi bahan pemetaan masalah di setiap wilayah. Dari situ jajaran kepolisian menentukan langkah pencegahan dan peningkatan pelayanan sesuai kewenangan.
Untuk persoalan yang butuh lintas sektor, kepolisian berkoordinasi dengan pemerintah daerah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Pola ini memungkinkan penanganan tidak berhenti di lingkup kepolisian.
"Jangan sampai masyarakat sudah menyampaikan persoalannya, tetapi tidak mengetahui bagaimana kelanjutannya. Kami ingin setiap aspirasi mendapat perhatian dan ditindaklanjuti," ujar Memo.
Jangkauan sampai Polsek di Wilayah Pelosok
Gerakan ini menyasar hingga tingkat Polsek agar hubungan polisi dan warga menguat sampai ke desa pelosok. Masjid diharapkan berperan sebagai ruang silaturahmi dan penguatan kepedulian sosial.
Pendekatan humanis menjadi jalan Polda Sulbar menempatkan polisi sebagai mitra masyarakat. Kehadiran aparat dinilai perlu dirasakan sebelum persoalan keamanan muncul, bukan hanya setelah terjadi tindak pidana.
"Melalui kegiatan Subuh Keliling, kami ingin membangun kedekatan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Seluruh pejabat utama Polda, Kapolres, hingga Kapolsek turun bersama masyarakat," kata Memo.