Pencarian

Tiga Kesalahan Berbahaya Penyimpanan Cloud yang Sering Diabaikan Pengguna Indonesia

Senin, 25 Mei 2026 • 20:28:01 WIB
Tiga Kesalahan Berbahaya Penyimpanan Cloud yang Sering Diabaikan Pengguna Indonesia
Pengguna cloud di Sulawesi Barat diimbau rutin memeriksa email terkait notifikasi layanan.

SULAWESI BARAT — Layanan penyimpanan cloud seperti Google Drive, iCloud, dan OneDrive memang menawarkan kemudahan akses dari mana saja tanpa perlu membawa hard drive fisik. Tapi kemudahan ini kerap membuat pengguna lengah terhadap praktik dasar yang justru bisa membahayakan data mereka. Padahal, sebagian besar risiko berasal dari kebiasaan pengguna sendiri, bukan dari celah keamanan penyedia layanan.

Email Akun yang Jarang Dicek Bisa Bikin Data Hangus

Banyak orang memiliki lebih dari satu alamat email dan menggunakan salah satunya yang jarang dibuka untuk mendaftar akun cloud. Ini keliru. Penyedia layanan biasanya mengirim pemberitahuan penting melalui email — mulai dari perubahan kebijakan, kuota penyimpanan hampir penuh, hingga notifikasi login mencurigakan dari perangkat baru.

Jika pengguna mengabaikan email tersebut, risiko terbesar adalah kehabisan ruang penyimpanan tanpa sadar. Akibatnya, file baru tidak bisa dicadangkan dan data lama berpotensi hilang jika dibiarkan terlalu lama. Dalam kasus yang lebih jarang namun tetap mungkin terjadi, perubahan tarif atau syarat layanan yang tidak dipantau bisa menyebabkan tagihan membengkak.

Dokumen Pajak dan Rekam Medis Jangan Disimpan di Cloud

Mengunggah dokumen sensitif seperti surat pajak, riwayat kesehatan, atau kontrak hukum ke cloud adalah salah satu kesalahan paling berbahaya. Jika informasi ini jatuh ke tangan orang lain, pelaku bisa melakukan pencurian identitas dengan berpura-pura menjadi korban.

Memang, perusahaan seperti Google, Apple, dan Microsoft menerapkan sistem keamanan berlapis yang membuat peretasan langsung ke server mereka sangat sulit. Namun risiko terbesar justru datang dari sisi pengguna: kata sandi yang lemah, perangkat yang tidak terkunci, atau jebakan phishing. Penyedia layanan juga bisa mengakses data pengguna dalam kondisi tertentu sesuai kebijakan masing-masing.

Solusi paling aman adalah menyimpan dokumen semacam itu di drive lokal. Jika tetap ingin menyimpannya secara online, enkripsi file terlebih dahulu sebelum diunggah ke server cloud.

Backup Otomatis Semua Data Tanpa Seleksi

Fitur backup otomatis memang praktis, tapi mengaktifkannya untuk semua jenis data tanpa filter bisa menjadi bumerang. Folder desktop yang berisi file kerja, foto liburan, dan dokumen pribadi sekaligus akan menguras kuota penyimpanan dengan cepat. Lebih parah lagi, file yang seharusnya tidak perlu dicadangkan — seperti cache aplikasi atau duplikat — ikut terunggah dan memenuhi kapasitas.

Pengguna disarankan untuk memilih folder tertentu secara manual dan menonaktifkan backup otomatis untuk direktori yang tidak penting. Ini tidak hanya menghemat ruang, tapi juga mengurangi risiko data sensitif ikut terunggah tanpa sengaja.

Bagikan
Sumber: bgr.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks