MAMUJU — Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Suhardi Duka, mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk tidak lengah terhadap ancaman disrupsi teknologi. Ia menilai perkembangan digital yang pesat membawa dampak negatif yang kompleks jika tidak diimbangi dengan pegangan ideologi yang kuat.
“Saya kira ini adalah suatu momen sejarah, lahirnya ideologi Pancasila. Di mana ideologi ini tidak hanya menjadi pandangan hidup, tapi harus menjadi darah, menjadi semangat dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” ujar Suhardi Duka kepada awak media usai upacara.
Mitigasi Dampak Digitalisasi Lewat Kebijakan Publik
Suhardi Duka menyitir amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menekankan pentingnya mitigasi terhadap dampak negatif teknologi. Ia optimistis bahwa budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa bisa dielakkan jika nilai-nilai Pancasila benar-benar dijiwai.
“Tadi Kepala Badan Ideologi Pancasila mengingatkan kita bahwa distruksi teknologi harus tetap dijaga. Semua faktor negatifnya bisa kita elakkan bila kita betul-betul bisa menjiwai dan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dalam kebijakan publik,” kata Suhardi Duka.
Pancasila sebagai Dasar Regulasi Daerah
Gubernur menegaskan bahwa setiap regulasi yang dikeluarkan pemerintah daerah harus berakar pada nilai keadilan sosial dan kemanusiaan. Hal ini dinilai relevan dengan dinamika sosial-politik saat ini yang kerap dihadapkan pada informasi hoaks dan polarisasi akibat media sosial.
“Saya kira itu sangat benar. Kita semua, seluruh menteri dan kepala daerah, akan melaksanakan itu,” pungkasnya.
Upacara Khidmat Dihadiri Forkopimda dan ASN
Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Sulawesi Barat berlangsung khidmat. Agenda tahunan ini dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), personel TNI-Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN), serta berbagai elemen masyarakat.
Kehadiran lintas sektor ini menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman, sekaligus pengingat bahwa Pancasila adalah perekat bangsa yang harus dijaga bersama.