SULAWESI BARAT — Kepergian Al-Ashqar menyisakan luka yang dalam. Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengonfirmasi kematian penjaga gawang Khan Younis Services Club itu. Ia baru menikah lima bulan lalu, dan sang istri saat ini tengah mengandung anak pertama mereka. Al-Ashqar juga merupakan satu-satunya putra di antara tujuh saudara perempuannya.
Ratusan Pemain Sepak Bola Jadi Korban Perang
PFA mencatat angka mengerikan: lebih dari seribu atlet Palestina tewas dalam konflik ini. Dari jumlah itu, ratusan berasal dari komunitas sepak bola. Al-Ashqar bukan hanya membela Khan Younis Services Club, ia juga pernah memperkuat Al-Aqsa dan Al-Masdar di kompetisi lokal Gaza.
Kematiannya menjadi pengingat betapa sepak bola Palestina terus berdarah di tengah baku tembak yang tak kunjung reda.
Duka dari Chili: Deportivo Palestino Bersuara
Ucapan belasungkawa datang dari luar Palestina. Klub asal Chile, Deportivo Palestino, mengeluarkan pernyataan resmi. “Kami sangat berduka atas meninggalnya kiper Palestina berusia 32 tahun, Saleem Al-Ashqar,” tulis mereka. “Ia tewas akibat serangan tentara Israel. Kami menyerukan keadilan dan perdamaian.”
Klub yang didirikan oleh imigran Palestina di Chile ini kerap menjadi corong solidaritas untuk tanah leluhur mereka.
Piala Dunia 2026 Berlangsung, Gaza Terus Berdarah
Ironi terjadi di panggung global. Di tengah bergulirnya Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika, dukungan untuk Palestina justru muncul dari tribun-tribun stadion. Spanduk dan nyanyian solidaritas terdengar dari para suporter.
Sementara itu, warga Gaza—termasuk keluarga Al-Ashqar—masih bergulat dengan pengungsian, infrastruktur yang hancur, dan konflik yang tak kunjung usai. Kehidupan olahraga di sana sudah lama lumpuh. Kematian Al-Ashqar adalah satu dari sekian banyak tragedi yang terus berulang.