SULAWESI BARAT — Kreator muda asal Hubei, China, Shenqi Ayu, merakit hoverboard terbang yang bisa ditunggangi melintasi Sungai Yangtze, terinspirasi perangkat Green Goblin di film Spider-Man. Proyek ini dikerjakan sendiri dengan bantuan kecerdasan buatan, bukan produk pabrikan atau rilis komersial. Hasilnya memperlihatkan bagaimana AI mempercepat pembuatan prototipe kendaraan personal yang sebelumnya hanya ada di layar film.
Shenqi Ayu membangun hoverboard terbang yang mampu mengangkut manusia, bukan sekadar model skala kecil. Ia menguji perangkat tersebut dengan menaikinya melintasi Sungai Yangtze, salah satu sungai terbesar di China.
Siapa Shenqi Ayu dan Apa yang Ia Bangun
Shenqi Ayu adalah kreator muda yang berbasis di Provinsi Hubei, China. Ia dikenal lewat proyek-proyek rekayasa mandiri yang ia kerjakan di luar jalur industri manufaktur besar.
Hoverboard buatannya dirancang untuk diterbangkan sambil ditunggangi, mengacu pada perangkat ikonik milik karakter Green Goblin dalam waralaba Spider-Man. Perangkat itu jadi acuan visual sekaligus target fungsional.
Peran AI dalam Proses Perakitan
Ayat menyebut kecerdasan buatan sebagai alat bantu utama selama pengembangan. AI dipakai untuk mempercepat tahap perancangan dan pemecahan masalah teknis yang biasanya butuh tim engineering.
Pendekatan ini menempatkan proyeknya di wilayah yang sama dengan tren maker global: individu dengan akses ke model AI generatif dan komponen off-the-shelf bisa memproduksi prototipe yang dulu butuh laboratorium penuh.
Uji Terbang di Sungai Yangtze
Puncak demonstrasi proyek ini adalah penerbangan melintasi Sungai Yangtze. Momen tersebut jadi pembuktian bahwa perangkat bisa membawa beban manusia dalam kondisi lapangan, bukan hanya di ruang uji tertutup.
Detail teknis seperti durasi terbang, ketinggian, sumber daya, dan spesifikasi motor tidak diungkap dalam bahan yang tersedia. Begitu pula status komersialisasi maupun rencana produksi massal.
Mengapa Proyek Ini Relevan bagi Industri Kendaraan Personal
Hoverboard terbang masih berada di ranah eksperimen, belum masuk kategori produk konsumen. Regulasi penerbangan sipil di hampir semua negara belum menyiapkan jalur sertifikasi untuk kendaraan personal berbasis angkat udara.
Di Indonesia, kategori ini akan bersinggungan dengan aturan Kementerian Perhubungan soal ruang udara dan drone. Belum ada kerangka uji layak terbang untuk perangkat berpenumpang di ketinggian rendah.
Meski begitu, proyek Shenqi Ayu menunjukkan bahwa hambatan utama kendaraan terbang personal bergeser dari "bisa atau tidak dibuat" menjadi "bisa atau tidak disertifikasi". Untuk pelaku bisnis dan investor, garis waktunya bergantung pada regulasi, bukan pada kemampuan prototipe.