MAMUJU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menyalurkan bantuan modal usaha kepada 200 keluarga miskin ekstrem yang tersebar di enam kabupaten. Bantuan ini bukan sekadar sembako atau uang tunai, melainkan peralatan usaha dan modal kerja yang disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing penerima.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Barat menyebutkan bahwa penerima manfaat telah melalui proses verifikasi ketat. Mereka adalah warga yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan usaha mikro.
Bantuan Apa Saja yang Diterima Warga?
Jenis bantuan yang disalurkan bervariasi, mulai dari gerobak dagang, kompor gas, hingga modal untuk usaha kuliner dan jasa. Setiap keluarga mendapatkan paket senilai Rp 2,5 juta yang diserahkan langsung di kantor kecamatan masing-masing.
“Kami tidak ingin bantuan ini habis untuk konsumsi. Makanya kami berikan dalam bentuk barang dan pendampingan usaha,” ujar Kepala Dinas Sosial Sulbar dalam keterangannya, pekan lalu.
Mengapa Program Ini Berbeda dari Bansos Biasa?
Berbeda dengan bantuan sosial reguler yang bersifat konsumtif, program ini menekankan pada pemberdayaan. Pemerintah provinsi menggandeng pendamping dari Dinas Koperasi dan UMKM untuk memastikan usaha yang dirintis bisa bertahan.
Pendampingan akan berlangsung selama enam bulan ke depan. Tim akan memantau perkembangan usaha dan memberikan pelatihan manajemen keuangan sederhana agar penerima tidak salah kelola modal.
Siapa Saja yang Berhak Menerima?
Kriteria penerima bantuan ini adalah keluarga miskin ekstrem yang memiliki anggota keluarga produktif, belum pernah menerima bantuan usaha serupa dari program lain, dan berdomisili di wilayah Sulbar minimal dua tahun terakhir.
Proses seleksi melibatkan kepala desa dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di lapangan. Data penerima juga diumumkan di balai desa untuk menghindari tumpang tindih dengan penerima bantuan lain.
Apa Target Pemerintah Sulbar ke Depan?
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menargetkan angka kemiskinan ekstrem di daerah itu bisa turun signifikan pada akhir 2025. Program bantuan usaha ini merupakan salah satu dari tiga strategi utama yang dijalankan.
Dua strategi lainnya adalah perluasan akses kesehatan gratis dan perbaikan kualitas hunian warga miskin. Semua program berjalan simultan dengan alokasi anggaran dari APBD Perubahan Sulbar tahun ini.
Bagaimana Respons Warga Penerima Bantuan?
Sejumlah penerima menyambut baik program ini. Mereka mengaku selama ini kesulitan mendapatkan modal karena tidak punya agunan untuk pinjaman bank. Kini, dengan bantuan peralatan usaha, mereka bisa mulai berjualan tanpa terbebani utang.
“Saya dapat gerobak dan kompor. Rencananya mau jualan pisang goreng di depan rumah. Semoga bisa tambah penghasilan,” kata seorang penerima di Kabupaten Polewali Mandar.
Apakah Program Ini Akan Berlanjut Tahun Depan?
Pemerintah provinsi berencana menambah jumlah penerima pada tahun anggaran berikutnya jika evaluasi menunjukkan hasil positif. Saat ini, baru 200 keluarga yang terjangkau dari total ribuan keluarga miskin ekstrem di Sulbar.
Dinas Sosial setempat terus mendata calon penerima baru yang memenuhi syarat. Proses verifikasi diperketat agar bantuan tepat sasaran dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial antar warga.