SULAWESI BARAT — Pasar headphone premium kembali kedatangan pemain anyar. Daisy, perusahaan teknologi asal California, memperkenalkan Daisy One, headphone over-ear nirkabel yang langsung menantang kebiasaan industri. Daripada ikut-ikutan mengejar kualitas Active Noise Cancellation (ANC) ala Sony WH-1000XM5 atau Bose QC Ultra, Daisy memilih pendekatan berbeda: menawarkan ketenangan pikiran lewat tombol khusus di bodi headphone.
Spesifikasi Utama
- Driver: 35mm (lebih kecil dari standar industri 40mm), tuning dari mantan insinyur Harman dengan penekanan pada frekuensi rendah (bass).
- Bobot: 318 gram — sedikit lebih berat dari rata-rata headphone premium.
- Material: Desain ramping berbahan metal, tersedia dalam warna silver, hijau tua, dan biru.
- Kontrol: Tombol fisik dan dial untuk volume, play/pause, serta tombol khusus 'Still Mode'.
- Aplikasi: Tidak ada. Semua pengaturan dilakukan langsung di perangkat.
Fitur Unggulan: Tombol Fisik 'Still Mode'
Fitur utama Daisy One adalah tombol 'Still Mode' yang terintegrasi di bodi headphone. Tombol ini, yang bentuknya mengingatkan pada ujung pulpen Montblanc, memutar soundscape yang direkam dari berbagai lokasi di California — seperti suara hujan, debur ombak, dan trek pernapasan lima menit.
Keunggulannya, semua konten ini tersimpan di dalam headphone. Pengguna tidak perlu membuka aplikasi atau menjaga ponsel tetap terhubung. Cukup tekan tombolnya, dan suara alam langsung terdengar. Daisy sengaja tidak menyertakan aplikasi pendamping, sebuah langkah yang dianggap sebagai kelemahan oleh banyak merek lain, namun dijadikan nilai jual di sini.
CEO Daisy, Jack Mulroe, mengakui tim desainnya berasal dari luar industri audio. Dalam wawancara dengan Wired, Mulroe berkata, "Saya mengutak-atik mode transparansi selama berbulan-bulan" untuk menyempurnakan produk ini.
Pendekatan Berbeda untuk Ketenangan
Daripada bersaing langsung dengan algoritma ANC kelas atas yang bertujuan menciptakan keheningan total, Daisy One menawarkan jalan pintas menuju efek yang sama: pikiran yang lebih tenang dan fokus. Strategi ini mirip dengan pendekatan startup headphone lain, Neurable, yang menggunakan pemantauan gelombang otak untuk mencapai 'flow state'. Namun, metode Daisy dinilai lebih 'tangan-di-atas' — tanpa perlu mengutak-atik aktivitas otak pengguna.
Meski demikian, spesifikasi teknis Daisy One tetap menyertakan fitur peredam bising. Hanya saja, Daisy tampaknya sadar diri tidak akan mampu mengalahkan pemain mapan di sektor tersebut.
Harga & Posisi Pasar
Daisy One dibanderol USD 399 atau sekitar Rp 6,6 juta (estimasi kurs Rp 16.500). Dengan harga tersebut, headphone ini langsung berhadapan dengan lini premium Sony dan Bose. Namun, Daisy mengandalkan faktor kebaruan dan pendekatan 'tanpa aplikasi' sebagai pembeda.
Di pasar Indonesia, kehadiran merek headphone baru seperti Daisy belum tentu mudah diterima. Namun, tren konsumen yang mulai jenuh dengan ekosistem aplikasi yang rumit bisa menjadi celah. Jika Anda adalah tipe pengguna yang ingin mengurangi distraksi digital dan lebih memilih kontrol fisik sederhana, Daisy One layak masuk daftar pertimbangan.
Daisy One membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari spesifikasi yang lebih besar atau algoritma yang lebih pintar. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah tombol yang tepat untuk membuat pikiran berhenti sejenak.