MAJENE — Ribuan tangan bergerak serentak memunguti sampah di tribun dan lapangan Stadion Prasamya Majene. Aksi yang melibatkan 500 orang ini digagas oleh DPC Partai Demokrat Majene, menggandeng petugas Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Pemkab Majene, pelajar, serta relawan.
Stadion Prasamya bukan tempat sembarangan. Lokasi ini sempat viral di media sosial karena kondisinya yang kotor dan penuh sampah. "Kami memusatkan aksi di sini agar menjadi inspirasi untuk bersama-sama menjaga kebersihan," ujar Bendahara DPC Demokrat Majene, Bayu Aditya Pratama.
Bukan Agenda Politik, Tapi Gerakan Kebersihan
Sekretaris DPD Demokrat Sulbar, Abd. Wahab Abdi, menegaskan bahwa kegiatan ini murni sosial, bukan politik. "Ini Gerakan Langit Biru untuk menyambut HUT ke-25 Demokrat. Gerakan ini akan dilakukan selama 8 minggu berturut-turut di seluruh Indonesia," kata Firman Argo Waskito yang turut hadir mewakili DPD Demokrat Sulbar.
Aksi serupa sebelumnya digelar di Mamuju pekan lalu. Rencananya, gerakan ini akan berlanjut ke Polman, Mamasa, Pasangkayu, dan Matra. Puncak acara akan digelar di Mamuju sebagai ibu kota provinsi.
Pelajar Berlomba Kumpulkan Sampah Terbanyak
Antusiasme peserta terlihat dari semangat para pelajar yang mengikuti kegiatan. Mereka berlomba mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan apresiasi. Salah seorang pelajar berharap kegiatan ini menjadi agenda rutin. "Semoga ini jadi gerakan besar. Semua orang peduli dan menjaga kebersihan agar Majene Mapaccing," pungkasnya.
Ketua DPRD Majene, M. Idwar, yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Demokrat Majene, menekankan pentingnya menanamkan jiwa menjaga kebersihan. "Tujuannya agar jiwa menjaga kebersihan tertanam tidak hanya saat kegiatan, tapi juga dalam keluarga dan keseharian," katanya.
Hadir pula dalam kegiatan tersebut Bendahara DPC Bayu Aditya Pratama, Andi Nurul Fatimah, Suriana Mardin, Elly Sulistiowati, Anggriani, dan Syarifuddin. Dari DPD Demokrat Sulbar, turut serta Firman Argo Waskito, Wahab Abdi, Fatmawati, Bebas Manggazali, Nurdin Passokori, Hamzah Zunuba, dan Rahmaniar.