SULAWESI BARAT — Momen harapan itu datang begitu saja. Setelah nyaris 80 menit bermain dalam tekanan, Inggris akhirnya mencetak gol lewat skema umpan silang sempurna yang diselesaikan dengan tendangan akurat. Stadion bergemuruh. Untuk pertama kalinya dalam laga itu, suporter Inggris benar-benar percaya.
Tapi keyakinan itu buyar dalam waktu kurang dari tiga menit. Argentina membalas, memaksa laga berlanjut, dan akhirnya menang. Inggris pulang dengan kepala tertunduk, meninggalkan satu pertanyaan klasik: apakah harapan justru yang membunuh?
Gol dan Tackle Spence: Dua Momen yang Membangkitkan Keyakinan
Sebelum gol, laga berjalan menegangkan. Argentina mendominasi penguasaan bola, sementara Inggris bertahan dalam formasi rendah. Setiap pelanggaran pemain Argentina terasa jahat di mata pendukung Inggris, sementara pelanggaran pemain Inggris dianggap wajar. "Pint myopia lain, tolong," tulis Max Rushden dalam kolomnya di The Guardian.
Babak pertama ditutup dengan pesimisme. "Semakin lama skor 0-0, semakin besar kemungkinan Argentina yang menang. Mereka tahu caranya," tulis Rushden. Tapi gol di babak kedua mengubah segalanya. Harapan tiba-tiba terasa nyata.
Momen lain yang tak kalah heroik adalah tekel Djed Spence. Bek Inggris itu melakukan tekel yang mengingatkan pada aksi Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci. "Tekel terbesar Inggris sejak Eric Dier ke Sergio Ramos — dan jauh lebih penting," tulis Rushden. Jika hasil akhir berbeda, momen itu akan menjadi headline montase dan salah satu patung kenangan.
Apakah Harapan yang Membunuh atau Justru Ketiadaannya?
Frasa "it is the hope that kills you" sudah lama menjadi keluhan umum fans sepak bola. Tapi penulis Rebecca Solnit punya pandangan lain. Dalam bukunya Hope in the Dark, ia mengutip penulis Bulgaria Maria Popova: "Berpikir kritis tanpa harapan adalah sinisme, tapi harapan tanpa berpikir kritis adalah naivety."
Serial Ted Lasso juga menolak frasa itu. "Bukan harapan yang membunuhmu. Justru ketiadaan harapan yang akan menjemputmu," kata karakter Ted Lasso. Sementara Jackson Lamb dari Slow Horses punya versi lain: "Bukan harapan yang membunuhmu. Tapi mengetahui bahwa harapan itulah yang membunuhmu — itu yang membunuhmu."
Keputusan Bertahan: Kesalahan Klasik Inggris?
Yang menarik, Inggris mulai mundur terlalu dini. Bahkan sebelum jeda minum, mereka sudah bermain defensif. "Apakah terlalu cepat untuk bertahan seperti ini?" tanya Rushden. Dengan 10 pemain di Azteca dulu, itu masuk akal. Tapi dengan 11 pemain di semifinal, keputusan itu justru mengundang petaka.
Di menit 82, Nico O'Reilly memblok umpan Argentina dan terus mengejar bola. Inggris akhirnya kembali ke wilayah lawan. "Itu menyelamatkan delapan detik," teriak Rushden ke rekannya. Satu menit kemudian, Lionel Messi melepas umpan silang yang melambung keluar. "Saat itulah saya berpikir, mungkin. Mungkin saja," tulisnya.
Tapi harapan itu hanya bertahan 2 menit 55 detik. Setelah itu, Argentina mencetak gol balasan, dan Inggris kembali ke realitas pahit: gagal lagi di ambang final.